Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 42 )

Chapter 42



(Cold Eyes)



Di suatu tempat, terlihat Kira sedang berjalan menyusuri sebuah jalanan kecil. Dari kejauhan terlihat Suto berdiri bersandar pada tembok sebuah bangunan. “Aku tak menyangka kalau dia bisa berpikir begitu.”(Suto). Kira pun berhenti di depan Suto. “Dia memang berhak begitu, yang bisa ku lakukan hanya menasehatinya.”(Kira). “Aku rasa dia akan memilih jalan yang tidak seharusnya dia lewati.”(Suto). “Aku tau itu...”(Kira). “Lalu apa tindakanmu?”(Suto). Kira hanya terdiam. Di tempat lain, Sena sedang duduk terdiam di bangku panjang di pinggir jalan. Sena teringat dengan kejadian yang menimpa dia dan Yuki. Sena perlahan meneteskan air mata, namun dia langsung teringat dengan kata-kata Kuroda. “Temui aku di tempat di mana kau berlatih dengan Kira setelah sembuh, itu pun kalau kau masih bisa bergerak dan ingin membalaskan dendammu.”(Kuroda). Sena perlahan berdiri, namun tepat di hadapannya, ada Hana yang telah menemukannya. “Akhirnya kau ketemu juga...”(Hana). Sena hanya terdiam melihat Hana. Hana yang seakan mengerti perasaan Sena, mulai terlihat khawatir. “Aku mohon jangan...”(Hana). Sena tetap terdiam dan mulai melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi Hana berusaha menghalanginya. “Tidak boleh! Kau tidak boleh seperti ini! Dendam tidak akan membuat siapa pun bahagia! Termasuk Kak Yuki! Seandainya dia hidup, apa kau ingin melihat dia terluka?”(Hana). Sena berjalan melewati Hana, tapi Hana berbalik dan meraih tangan Sena. “Aku mohon...demi Kak Yuki...”(Hana). “Maafkan aku...”(Sena). Sena melepaskan genggaman Hana dan berjalan meninggalkannya.

Hana yang melihat Sena pergi, seketika menangis. Hana teringat dengan kata-kata Yuki. “Kalau sesuatu terjadi padaku, aku mohon...jagalah Sena. Hanya kau yang bisa memahami perasaannya.”(Yuki). “Kak Yuki...maaf...aku tidak bisa menjaganya...”(Hana:Dalam Hati). Di dalam hutan, terlihat Kuroda sudah sampai di sebuah tempat mirip kuil. “Sudah lama sekali...”(Kuroda). “Apa yang akan kita lakukan?”(Sagura). “Sesuai dengan keinginan awal kita, kita pasti akan mendapatkannya.”(Moku). “Tenang saja...impian itu...sekarang tepat di depan kita...”(Kuroda). Sedangkan di tempat lain, Sena dengan langkah yang mantap terus berjalan menuju tempat yang dimaksud Kuroda. Sena terus teringat dengan kenangannya bersama Yuki. Sampai di sebuah tempat, dia berhenti. “Kalau kau juga bermaksud menghentikanku, aku tidak punya pilihan lain selain menghadapimu.”(Sena). Ternyata ada seseorang yang sudah berdiri di kejauhan di depan Sena yang tak lain adalah Ryuto. “Kau salah dengan satu hal. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan aku lakukan, aku ke sini hanya untuk mengetest sejauh mana kemampuanmu jika kau memang ingin membunuhnya.”(Ryuto). “Kedengarannya menarik, ini bisa jadi pemanasan yang bagus.”(Sena). Sena tiba-tiba menatap Ryuto dengan tatapan tajam, kosong, dan hanya berisi kebencian. “...”(Ryuto). Ryuto mengeluarkan senjatanya begitu juga dengan Sena. Angin berhembus kencang dan menerbangkan dedaunan. Mereka berlari, berhadapan satu sama lain. Sebuah daun yang terbang tepat di hadapan keduanya. Dengan sekejap kedua senjata mereka beradu sekaligus membelah daun itu.

Tanpa berkata-kata, mereka terus menyerang satu sama lain. “Dia jauh lebih mengerikan dari perkiraanku. Apa ini karena emosinya?”(Ryuto:Dalam Hati). Mereka terlihat seimbang, baik dalam kemampuan, kekuatan, kecepatan, dan semuanya. “Kalau begini...”(Ryuto:Dalam Hati). Sena terus menyerang Ryuto dengan membabi buta, namun Ryuto berhasil menghindari setiap serangannya. Dengan cepat Sena mengayunkan samurainya ke arah Ryuto, namun Ryuto telah membaca itu. “Dengan ini...mungkin bisa...”(Ryuto:Dalam Hati). Senjata Ryuto berhasil menahan Sena. “Dengan ini semua, kau bahkan tak akan mampu menyentuhnya.”(Ryuto). Sena yang senjatanya berhasil ditahan dengan seketika mengeluarkan kekuatan yang luar biasa. “!!!”(Ryuto). Ryuto yang tidak kuat menahan itu langsung terdorong mundur cukup jauh. “Ini...apa mungkin ini...”(Ryuto). “Urusanku bukan di sini, kau hanya membuang waktuku.”(Sena). Ryuto menatap ke arah Sena dengan rasa tidak percaya, sedangkan Sena hanya membalasnya dengan tatapan dingin. Sena kembali meneruskan perjalanannya dan melewati Ryuto yang hanya terdiam. Tatapan dingin yang menusuk tulang telah membungkus rasa dendam yang membara dalam dirinya.







To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 41 )

Chapter 41



(You’re Me)



Dengan wajah sayu, Sena menatap ke arah Kira. “Memang ada hal yang sangat ingin aku lakukan saat ini.”(Sena). Kira pun menengok ke arah Sena. Kira memperhatikan secara seksama tatapan mata Sena, lalu kembali memalingkan pandangannya dari Sena. “Sudah ku duga. Kau memang sama denganku...bahkan sejak awal kita bertemu.”(Kira). “Tidak ada ceritanya aku sama denganmu. Aku sama sekali tidak ingin jadi orang sepertimu.”(Sena). “Lalu...apa yang ingin kau lakukan saat ini? Itu sama sekali tidak akan mengubah apa pun.”(Kira). “Aku tidak minta pendapatmu!”(Sena). Kira lalu berdiri dan menghadap Sena. “Lantas kenapa? Apa ada yang salah dengan semua itu?”(Kira). Genggaman tangan Sena yang memegang samurainya semakin mengeras, seakan Sena sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya. “Aku ingin membuktikannya sendiri! Seberapa kuat diriku!”(Sena). “Hanya itu? Kau pikir untuk apa latihanmu selama itu?”(Kira). Sena tanpa berbicara langsung menarik samurainya dan berusaha menyerang Kira. Dengan reflek yang lebih cepat, Kira mampu membalik serangan Sena. “Begitu rupanya, dia telah memberikan itu padamu?”(Kira). “Aaaaaa!!!!!”(Sena). Sena terus-menerus berusaha menyerang Kira, namun nihil. “Kalau hanya segitu, seujung jari pun, kau tak akan mungkin meraihnya.”(Kira). “Diaaammm!!”(Sena). Dengan penuh emosi, Sena terus menyerang Kira hingga dia terlihat kelelahan. “Untuk apa? Apa ini sangat berarti bagimu?”(Kira). “Tentu saja! Dia yang bilang padaku...Bahwa hanya kau, satu-satunya orang yang mampu mengalahkannya! Karena itu...dengan cara ini, aku pasti bisa!”(Sena). “Bisa? Memang apa yang bisa kau lakukan?”(Kira). Sena kembali berusaha menyerang Kira. “Membunuhnya!!!”(Sena).

Kira hanya terdiam, dan dengan cepat dia berhasil menghindari serangan Sena, lalu membuang samurai Sena dan menggantungkan Sena di ketinggian dengan menarik baju Sena. Sena nampak sangat kesal dan tidak bisa berkutik. “Sial!!”(Sena:Dalam). “Satu pertanyaanku saat ini. Apa arti dari semua ini bagimu?”(Kira). “Segalanya! Segala-galanya!”(Sena). Kira terdiam sejenak. “Begitu...lalu membuat kakakmu menangis?”(Kira). “Kau tidak tau apa-apa! Kau sama sekali bukan siapa-siapa! Kalau dia memang berharga bagimu, kenapa kau tidak datang dan membunuh orang-orang itu?! Kenapa?!”(Sena). “Hidupku terlalu singkat untuk dipenuhi dengan hal yang serendah itu.”(Kira). Sena yang mendengar perkataan Kira, menjadi semkain emosi. “Kau memang tidak punya hati! Di mana perasaanmu saat dia mati?! Kau bahkan tidak ada saat pemakamannya! Apakan itu yang disebut dengan menghargainya?!”(Sena). “Kau itu...sama denganku...denganku yang dulu...”(Kira). “Aku sudah muak dengan ceramahmu! Kenapa kau tidak melepaskanku sekarang dan biarkan saja aku mati?! Bukankah itu yang kau harapkan?!”(Sena). Kira menatap kedua mata Sena dengan tajam. “Itukah keinginanmu?”(Kira). Kira dengan tiba-tiba melepaskan Sena. Sena pun terhempas, akan jatuh. Saat Sena hampir jatuh, Kira dengan cepat meraih kaki Sena dan melempar Sena ke belakangnya. Sena terlempar hingga tepat di tengah atap gedung. “Kenapa? Kau...”(Sena). “Yang namanya penyesalan, itu selalu datang dia akhir. Kalau memang penyesalan datang di awal, maka semua manusia tidak akan mungkin melakukan hal konyol dalam hidupnya.”(Kira). Sena terlihat bingung. “Apa maksudmu?”(Sena). “Hidupmu masih panjang dan terlalu berharga untuk hal seperti itu.”(Kira). “Aku sama sekali tidak paham, apa yang kau maksud sebenarnya?”(Sena). “Kau akan tau, saat kau siap...”(Kira). Sena hanya terdiam sambil sedikit menahan emosi.

Tiba-tiba Kira melangkah ke pinggir atap gedung lalu menjatuhkan dirinya. “Hei! Apa kau sudah gila?!”(Sena). Dari kejauhan, Kira terlihat meneteskan air mata. Sena berlari ke tempat di mana Kira menjatuhkan diri. “Di mana dia?!”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat ke bawah gedung, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang telah jatuh. “Apa yang dia maksud sebenarnya? Apa dia tau tentang sesuatu?”(Sena:Dalam Hati). Sena lalu menghampiri samurainya dan mengambilnya. “Kakak...apa Kira juga ada hubungannya dengan semua ini?”(Sena). Angin malam yang membawa Sena pada teka-teki yang tak terpecahkan. Di balik gemerlapnya lampu kota, tersimpan kegelapan yang siap untuk kembali.







To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 40 )

Chapter 40



(Missing)



Keesokkan harinya, Hana terlihat tertidur di meja. Sinar matahari pagi mulai membangunkannya. “Mmmm...sudah pagi...”(Hana:Dalam Hati). Hana melihat ke arah tempat tidur Sena, dan terlihat selimut menutupi seluruh kasur dengan tonjolan di tengahnya. “Sena...Sena...”(Hana). Hana mencoba membangunkan Sena tapi tidak ada jawaban. “Mungkin dia masih lelah...Sebaiknya aku buatkan minuman dulu.”(Hana:Dalam Hati). Hana pun ke dapur untuk membuat minuman sekaligus sarapan Sena. Setelah beberapa saat, Hana kembali ke samping tempat tidur Sena. Hana kembali berusaha membangunkan Sena. “Sena...bangun, ini aku buatkan sarapan.”(Hana). Hana mulai merasa curiga, karena sedari tadi tidak ada jawaban. Hana akhirnya memutuskan untuk membangunkan Sena dengan menggoyang-goyangkan tubuh Sena. “Hei...Sena...Ayo bangun...sudah pagi.”(Hana). “Tetap tidak ada jawaban. Hana yang semaki penasaran memutuskan untuk menarik selimut itu. “!!!”(Hana). Betapa terkejutnya Hana, ternyata yang ada dibalik selimut itu hanya guling beserta bantal saja. Sontak Hana panik dan kebingungan. Dia langsung berlari ke arah pintu. Saat dia membuka pintu, terlihat Tora yang bermaksud untuk masuk ke dalam. “Eh...Hana, ada apa?”(Tora). “Sena! Sena!”(Hana). “Sena? Dia kenapa? Apa ada yang terjadi?”(Tora). “Dia...dia pergi tanpa memberitauku! Aku bingung harus mencarinya ke mana!”(Hana). Tora yang mendengarnya juga ikut panik. “Ini gawat! Kau segera hubungi teman-teman yang lain! Biar aku yang akan mencarinya terlebih dahulu!”(Tora). “Baik!”(Hana).

Hana dan Tora pun berpencar. Hana pergi menuju ke rumah Saki, sedangkan Tora berkeliling ke semua tempat untuk mencari Sena terlebih dulu. “Apa?!(Saki). “Sudahlah, penjelasannya nanti saja! Sebaiknya kita kumpulkan teman-teman sebanyak mungkin lalu segera berpencar.”(Hana). “Baiklah! Ayo!”(Saki). “Sena! Oi...Sena!”(Tora). Sekian lama Tora mencari ke sana-ke mari tapi belum ketemu. Tora pun bertemu dengan rombongan Hana dan teman-teman yang lain. “Bagaimana?!”(Hana). “Nihil! Aku rasa dia pasti sudah jauh.”(Tora). “Jangan menyerah! Kita pasti bisa menemukannya!”(Saki). “Kalau begitu, kita berpencar jadi dua dan tiga orang. Kita berpencar sejauh mungkin, lalu kita berkumpul lagi di taman satu jam kemudian.”(Uno). “Aku setuju! Lebih cepat lebih baik!”(Saki). Mereka pun berpencar menjadi dua dan tiga orang, yaitu Hana bersama Saki dan Mayumi, sedangkan Tora dengan Uno. Mereka berpencar sangat jauh, bahkan ke tempat yang sama sekali belum pernah mereka datangi, tapi tidak membuahkan hasil. Satu jam akhirnya berlalu, mereka pun terlihat berkumpul di taman. “Tidak ada...kami sama sekali tidak menemukannya.”(Tora). “Kami juga. Sama sekali tidak ada yang melihat Sena.”(Saki). “Bagaimana ini? Apa kita harus melaporkan ini ke polisi?”(Mayumi). “Aku justru berpikir jika ini mungkin ada kaitannya dengan kejadian waktu itu. Ya, itu hanya asumsiku saja.”(Saki). “Kalau kita tidak menemukannya secepat mungkin, aku takut akan terjadi hal buruk lagi padanya.”(Hana). “Hana, apa kau pernah tau, mungkin tentang tempat rahasia atau semacamnya dari Sena yang biasa dia kunjungi?”(Uno). “Tidak...sama sekali tidak pernah...”(Hana). “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”(Mayumi).

Di tempat lain, terlihat Kira sedang duduk di atap sebuah gedung. Kira teringat dengan kematian Yuki. “Sial! Jika saja...Aku...”(Kira). Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari arah belakang Kira. “Ya...jika saja kau datang lebih cepat, dia tak akan berakhir seperti itu...”(Unknow). “...”(Kira). Orang itu pun terus mendekat lalu berhenti tepat di belakang Kira. “Begitu...kau memang pantas untuk menyalahkanku. Aku memang orang yang tidak berguna.”(Kira). “Tidak juga...pada awalnya, aku juga merasakan hal yang sama denganmu saat ini.”(Unknow). “Aku tau itu...dia juga...orang yang sangat berharga bagiku.”(Kira). “Lalu kenapa? Kenapa kau tidak ada?”(Unknow). “Itu juga...hal yang sangat aku sesali...”(Kira). “Seingatku, kaulah orang yang bilang padaku, agar jangan pernah menyesali sesuatu di masa lalu.”(Unknow). “Memang benar...lalu...apa yang akan kau lakukan sekarang...Sena...”(Kira). Ternyata, orang yang berdiri di belakang Kira adalah Sena yang sedang memegang samurai miliknya. Saat semua orang sedang mencarinya, dia justru berada di tempat yang tak terduga.







To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 39 )

Chapter 39

(Tears and Memory)

Sena masih berdiri di depan makam Yuki. Dari kejauhan, terlihat teman-teman Sena tidak bisa melakukan apa-apa melihat kondisi Sena yang sekarang. Dengan percaya diri, Hana melangkah maju mendekati Sena. “Aku ada di sana...tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku memang tidak berguna...”(Sena). “Tidak begitu, situasinya memang sulit, bahkan untuk orang sepertimu. Aku tau ini berat, tapi...”(Hana). “Aku ini Hyper! Tapi kenapa aku tidak bisa menolongnya! Kenapa?!”(Sena). Sena semakin terpuruk, namun dengan lembut, Hana mencoba mendekap Sena dari belakang. “Menangislah...Aku, kami semua, akan selalu ada untukmu...”(Hana). “Kau tidak mengerti! Kau sama sekali tidak mengerti! Seandainya...seandainya aku tidak ceroboh, ini pasti tidak akan terjadi!”(Sena). “Tidak semuanya adalah kesalahanmu...kita juga tidak ada yang tau, jika akan berakhir seperti ini. Kau harus kuat...”(Hana). Sena teringat dengan kenangannya bersama kakaknya. Banyak memori indah di antara mereka, namun sekarang sudah lenyap. Sena yang tidak kuasa menahan kesedihannya langsung menjatuhkan benda yang digenggamnya dan dia jatuh bersimpuh meratapi kepergian Yuki. Hana hanya bisa menenangkan Sena semampunya. “Lepaskan saja Sena...kalau itu bisa membuatmu membaik...maka lepaskan saja...”(Hana). Sena kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Hana yang seakan mampu merasakan kesedihan Sena akhirnya juga ikut meneteskan air mata, begitu juga teman-teman Sena yang lainnya.
Hari sudah malam. Di apartement Sena, Sena terlihat sudah tertidur pulas, sedangkan yang lainnya berada di luar. “Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu.”(Mayumi). “Jaga dia baik-baik, jangan kau apa-apakan dia, ya.”(Saki). “Iya, kalian bisa serahkan semuanya pada kami.”(Tora). “Kami akan usahakan sepagi mungkin untuk datang kemari.”(Uno). “Terima kasih...”(Hana). Semuanya pulang, hanya tinggal Hana dan Tora yang ada di sana. “Kau sendiri bagaimana?”(Tora). “Aku akan di sini menjaga Sena. Aku sudah minta izin pada ibuku, dia bilang tidak apa-apa aku menjaganya.”(Hana). “Mmmmm...baguslah kalau begitu. Memang kau, satu-satunya orang yang dia butuhkan sekarang, karena hanya kau yang bisa memahami dia.”(Tora). “Iya...mungkin memang benar...”(Tora). “Kalau begitu, aku akan masuk ke kamar ku, kalau kau butuh sesuatu, langsung saja panggil aku.”(Tora). “Iya...”(Hana). Tora pun masuk ke kamarnya, sedangkan Hana masuk ke kamar Sena. Saat Hana selesai menutup pintu, ternyata Sena bangun. “Mereka sudah pergi...”(Sena). “Eh, maaf aku membangunkanmu.”(Hana). “Tidak...aku memang sejak tadi belum tidur.”(Sena). “Begitu...biar aku buatkan teh, ya.”(Hana). “Iya...”(Sena).
Hana ke dapur membuatkan teh, lalu kembali. “Jadi sedari tadi...kau tidak tidur?”(Hana). Sena hanya terdiam. “Kenapa? Kau kan harus banyak istirahat.”(Hana). “Aku tidak bisa. Setiap kali aku menutup mataku, aku pasti terbayang dengan kakak...dan...itu...sangat menyakitkan...”(Sena). “Tapi...kenapa kau tadi...”(Hana). “Aku tidak ingin membuat mereka cemas, terutama kau. Tapi, kenapa kau masih di sini?”(Sena). “Tidak apa-apa, aku sudah mengatakan tentang hal ini pada ibuku, jadi aku akan menemanimu.”(Hana). “Gara-gara aku...kau jadi seperti ini...”(Sena). “Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku justru senang bisa...membantu...teman yang...sedang kesusahan...begitu...hehehe...”(Hana). Sena mulai tersenyum. “Terima kasih...”(Sena). “Nah, sekarang kau istirahatlah, biar aku yang akan menjagamu.”(Hana). “I...iya...”(Sena). Sena kembali berbaring di tempat tidurnya, sementara Hana duduk di samping meja di dekatnya. Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Hei...”(Sena). “Ada apa?”(Hana). “Ingat tidak, waktu aku, kau, dan kakak bermain bersama dulu?”(Sena). Hana terlihat mengingat kembali. “Itu ya...Aku selalu mengingatnya...”(Hana). “Lucu sekali ya, kita bermain...dari siang sampai matahati tenggelam.”(Sena). “Iya...bahkan karena asyiknya bermain, kita sampai lupa waktu, dan akhirnya membuat ibuku khawatir karena kita masih bermain sampai larut...”(Hana). “Benar...Tidak terasa, hidup itu singkat, ya. Padahal aku masih merasa baru kemarin kita melakukan semua itu, tapi sekarang...semua sudah tidak mungkin lagi...”(Sena). “Tidak juga...”(Hana). “Eh?”(Sena). Hana terlihat tersenyum ke arah Sena. “Selama kita masih punya kenangan tentang Kak Yuki, dia tidak akan hilang dari kita. Karena dia...selalu bersama kita...seperti bintang di langit sana...”(Hana). “Kau benar...apa pun yang terjadi, hidup harus terus berjalan...”(Sena). Cahaya bintang, pengobat luka dan rindu dengan dia yang di sana.



To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 38 )

Chapter 38

(My Dear Sister)

Suasana berkabung sangat terasa. Sena yang masih belum sadar, terbayang dengan Yuki. Sena berusaha meraih Yuki, tapi Yuki semakin menjauh dan akhirnya pergi. “Apa pun yang terjadi, kakak pasti akan selalu bersamamu...”(Yuki). “Kakak! Jangan pergi!”(Sena). Sena yang tak mampu meraih Yuki seperti tenggelam dan tak mampu untuk bangkit. “Apa...apa yang bisa aku lakukan...?”(Sena:Dalam Hati). Kembali ke kenyataan. Sena perlahan-lahan mulai sadar. “Aku...”(Sena:Dalam Hati). Hana, Saki, Tora, dan teman-teman Sena yang lain sudah ada sekeliling Sena. “Kau sudah sadar rupanya.”(Saki). “Kau baik-baik saja?”(Hana). “Di mana ini?”(Sena). “Ini di apartementmu.”(Uno). Sena berusaha untuk duduk. “Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih belum kuat.”(Hana). Sena seketika langsung teringat dengan Yuki. “Kakak?! Bagaimana dengannya?!”(Sena). Semua hanya bisa terdiam. “Hei! Katakan sesuatu!”(Sena). Semuanya masih terdiam dengan raut wajah terpukul. “Kalian ini kenapa?! Tolong jawab pertanyaanku...”(Sena). Hana dengan halus memegang tangan Sena. “Sena...aku harap kau bisa menerimanya...”(Hana). “Menerima?! Menerima apa?! Aku sama sekali tidak paham.”(Sena). “Kau ini bagaimana...tentu saja...”(Saki). Mayumi langsung memegang pundak Saki dan hanya menggelengkan kepala. “...”(Saki).
Sena yang masih merasa sangat bingung tiba-tiba berontak dan bangkit dari tempat tidurnya. “Cukup! Aku benar-benar muak dengan semua ini!”(Sena). Sena pun lari sedangkan Hana berusaha menghentikannya. “Sena! Kau mau ke mana?!”(Hana). Saat Sena mencoba keluar melalui pintu, ternyata Ryuto sudah berdiri di samping luar pintu. “Jangan bodoh.”(Ryuto). Sena yang mendengar suara Ryuto langsung menoleh ke arah Ryuto. “Kau! Kenapa kau ada di sini?!”(Ryuto). “Itu bukan urusanmu. Lagipula, apa pun yang kau lakukan hanya sia-sia.”(Ryuto). “Cih! Aku tidak punya waktu untuk ini!”(Sena). Sena kembali berlari. “Dia sudah mati!”(Ryuto). Sena langsung berhenti. “Apa katamu?”(Sena). “Apa kau tuli, aku bilang dia sudah mati.”(Ryuto). “Dia...siapa maksudmu dia?”(Sena). Ryuto seketika terdiam. Sena yang tidak tahan, langsung kembali dan menarik baju Ryuto. “Katakan! Siapa maksudmu dia?! Jawab!”(Sena). “Dia...Kakakmu.”(Ryuto). Sena langsung terkejut. “Apa kau sudah lupa? Atau kau sama sekali tidak mau mengingatnya. Saat kakakmu mati dalam dekapanmu...”(Ryuto). Sena langsung teringat dengan saat-saat terakhir Yuki. Yuki melindungi Sena dari serangan Sagura dengan menggunakan tubuhnya. “Kakak!”(Sena). “Sena...maafkan aku...aku...sudah membohongimu...selama ini...”(Yuki). “Tidak...kakak harus hidup! Kakak harus bertahan!”(Sena). Yuki yang mendengarnya hanya tersenyum. “Kau...memang orang yang keras kepala...Sena...”(Yuki:Dalam Hati). Sena hanya bisa menangis melihat keadaan Yuki, lalu Sagura yang sedari tadi menyerang Yuki langsung melempar tubuh Yuki dan berusaha menyerang Sena. “Tunggu...”(Kuroda). Sagura langsung menghentikan serangannya. “Hanya aku...yang bisa melakukannya...”(Kuroda). Kuroda mendekati Sena yang tiba-tiba menjadi tidak bisa bergerak. “Itu...adalah milikku...”(Kuroda).
Seketika, tubuh Sena mengeluarkan cahaya yang secara perlahan masuk ke dalam benda yang dibawa Kuroda. “Aaaaaaakkkkkkkkhhhhh!!!”(Sena). Setelah beberapa saat, cahaya tersebut menghilang, seakan terserap sepenuhnya ke dalam benda itu. Sena seakan-akan hampir hilang kesadaran. “Sekarang, urusanku denganmu sudah tidak ada lagi...”(Kuroda). “Apa lebih baik, kita menghancurkan mereka?”(Sagura). “Tidak perlu...setidaknya, biarkan mereka menikmati detik-detik terakhir mereka di dunia ini.”(Kuroda). Kuroda dan Sagura terlihat akan meninggalkan tempat itu. Sena yang hampir tidak sadar melihat ke arah Yuki. “...”(Sena). Sena perlahan mendekati Yuki dengan berurai air mata. Mengetahui hal itu, Kuroda dan Sagura berhenti dan memperhatikan Sena. “Sungguh pemandangan yang mengharukan...”(Kuroda). Sena terus berjuang hingga akhirnya sampai di samping Yuki. “Kakak...”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan perlahan mendekap Yuki yang sudah sekarat. “Sena...aku ingin mengatakan...sesuatu...dekatkan...telingamu...”(Yuki). Sena mendekatkan telinganya, lalu Yuki terlihat membisikkan sesuatu. Sena langsung terkejut, sedangkan Yuki tersenyum dan tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa. Tangisan Sena mengalir semakin deras hingga dia tak sadarkan diri. Kembali ke waktu sekarang, Sena terlihat berdiri sambil menangis di depan makam seseorang, yang tak lain adalah Yuki. Sena terlihat menggenggam sesuatu. Sedih dan penyesalan menyelimuti hati Sena yang hancur remuk tak berbekas.



To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 37 )

Chapter 37

(Too Late)

Seseorang telah berdiri di belakang Sena. Sementara itu, pertarungan antara Ryuto dengan Moku terlihat sudah mencapai batasnya. Keduanya terlihat mulai kelelahan dengan luka di sekujur tubuh mereka. “Baru kali ini, aku menemui lawan sepertimu. Kau benar-benar di luar dugaan.”(Moku). “Jujur, aku sendiri juga tidak terlalu yakin dengan diriku...”(Ryuto). Dengan napas yang terengah-engah, Hana dan teman-temannya mulai melihat sebuah pintu dari kejauhan. “Hana! Aku rasa itu tempatnya.”(Mayumi). “Sebaiknya kita harus percepat langkah kita!”(Saki). Hana dan yang lainnya pun sampai di depan pintu. Hana berusaha untuk membuka pintu, tapi terkunci. “Bagaimana ini? Pintunya tidak mau terbuka.”(Hana). “Mungkin terkunci dari dalam.”(Mayumi). “Hei! Siapa pun yang ada di dalam! Cepat buka pintunya!”(Saki). Tak lama berselang, seseorang terlihat mendekati mereka. “Berapa kali pun kau mencoba, tidak akan ada yang mendengarmu.”(Unknow). “Siapa itu?!”(Hana). “Jangan-jangan kita akan dapat masalah lagi.”(Mayumi). Ternyata yang datang adalah Hazenda Karasu, salah satu bawahan Kuroda. “Kalian sama sekali tidak menyadarinya, tapi kalian telah masuk dalam perangkapku.”(Karasu). “!!!”(Hana, Mayumi, Saki). “Semua tempat ini, adalah perangkapku.”(Karasu). “Itu tidak mungkin, tidak mungkin!”(Saki). “Apa benar begitu...”(Karasu). Tiba-tiba seluruh tempat itu berubah menjadi kosong. “Apa-apaan ini?!”(Mayumi). “Saki! Mayumi!”(Hana). Semua menjadi gelap, mereka terpisah satu sama lain, dan hanya terdengar gema suara Karasu. “Ini adalah kemampuanku...ruang hampa. Selama kalian di sana, kalian tidak akan bisa ke mana-mana.”(Karasu). “Bagaimana ini? Aku...Apa yang harus aku lakukan?”(Hana:Dalam Hati). Hana mulai terlihat putus asa dan merasa bersalah. Di tengah keputusasaannya, Hana teringat dengan Sena. “Aku tidak akan menyerah! Apa pun yang terjadi!(Sena). “Aku tidak akan mati sebelum aku bisa menggapai impianku!”(Sena). “Kalau aku punya hal yang berharga di dunia ini, itu pasti adalah teman-temanku.”(Sena). “Sena...apa aku...bisa...menjadi sepertimu...?(Hana:Dalam Hati).
Tiba-tiba, terdengar gema suara yang berbeda. “Kalian semua, masih punya harapan. Jadi, jangan menyerah di sini...”(Unknow). “!!!”(Hana). Seketika, kegelapan yang menyelimuti Hana dan teman-temannya lenyap. “Ini...”(Hana). “Hana!”(Mayumi). “Saki, Mayumi...”(Hana). “Kalian berdua! Tapi bagaimana bisa? Siapa yang sudah menolong kita?”(Saki). Ternyata seseorang sudah berdiri di samping mereka yang tidak lain adalah Kouta. “Kak Kouta?!”(Hana). Di tempat Ryuto, Ryuto terlihat sudah terdesak. Namun tak lama berselang, terlihat juga seseorang yang datang yaitu Suto. “Kau...”(Ryuto). “Kerja bagus.”(Suto). “Akhirnya kau datang juga...”(Moku). “Kita bertemu lagi rupanya.”(Suto). Sementara itu, di dalam ruangan di mana Sena berada juga terlihat ada seseorang yang datang. “Kau terlambat, Kira...”(Kuroda). Orang yang datang ke ruangan itu adalah Kira. Terlihat darah tersebar di mana-mana. “Sial!”(Kira:Dalam Hati). Ternyata, Yuki sudah tergeletak di dekapan Sena yang juga terlihat terluka parah dan tak sadarkan diri berurai air mata. Dengan tatapan tajam, Kira langsung maju berusaha menyerang Kuroda, tapi berhasil digagalkan Sagura. “Tidak semudah itu...”(Sagura). “Aku tidak punya urusan denganmu!”(Kira). Tiba-tiba, Kira berhasil melewati Sagura yang seketika langsung jatuh tersungkur. “Anak itu belum mati...”(Kuroda). “!!!”(Kira). Kira tiba-tiba berhenti saat mendengar perkataan Kuroda. “Tapi aku ragu dengan yang satu itu...”(Kuroda). Kira langsung melihat ke arah Yuki yang tidak bergerak sama sekali. Kira tanpa pikir panjang langsung menyerang Kuroda tapi mereka terlihat seimbang. “Aku berikan anak itu kesempatan hidup, sebagai imbalan atas apa yang sudah dia berikan padaku. Tapi, aku tidak bisa untuk perempuan itu, karena dia cukup mengganggu.”(Kuroda). Senjata mereka beradu dengan kuat, hingga akhirnya kedua senjata mereka terhempas. Namun dengan sigap, Kira berusaha mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tiba-tiba, Kuroda sudah ada di sampingnya dan langsung meraih tangannya. “Tidak sekarang Kira. Aku akan berhadapan denganmu lain kali. Jika saja kau tadi datang lebih cepat, aku pasti akan berubah pikiran, tapi sayangnya aku sudah kehabisan waktu.”(Kuroda). Kira berusaha memukul Kuroda tapi Kuroda berhasil menghindar. “Sampai jumpa Kira...Aku harap bisa bertemu lagi denganmu...”(Kuroda). Kuroda dan Sagura pun menghilang. Moku dan Karasu yang menyadari itu juga ikut menghilang. Kira langsung mendekati Sena yang tak sadarkan diri dan Yuki yang sudah terbaring tak bernyawa. Hujan pun turun, salah seorang yang amat berharga baginya telah pergi.



To Be Continue...

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 36 )

Chapter 36

(Reason)

Tetesan darah yang kembali mengalir seiring dengan suara tebasan yang menggema di udara. Saat Sena baru menyadari kejadian itu, ternyata Yuki telah menghentikan senjata Sagura dengan punggungnya. “Hampir saja...Reflek yang bagus...”(Sagura). “Itulah...akibatnya jika...berusaha meremehkanku...”(Yuki). “Begitu rupanya...tidak heran jika kau bisa sampai seperti ini, kau benar-benar mengingatkanku pada...”(Sagura). “Diam! Aku benar-benar tidak ingin mendengar nama itu!”(Yuki). “Sepertinya...ada sesuatu yang telah terjadi di antara kalian? Apa aku salah?”(Sagura). “Itu sama sekali bukan urusanmu!”(Yuki). Yuki langsung berbalik dan mengunci Sagura dari belakang. “Begitu ya...”(Sagura). “Sena, sekaranglah kesempatanmu! Aku akan tahan pergerakkannya, kau tebaslah dia tanpa ragu!”(Yuki). Sena terlihat ragu. “Tapi jika aku melakukan itu, kakak juga...”(Sena). “Cepat!”(Yuki). Dengan setengah ragu, Sena mengayunkan pedangnya ke arah Sagura. “Masih belum mengerti juga...”(Sagura). Tiba-tiba, sesuatu keluar dari tubuh Sagura, seperti gelombang yang amat kuat. Sena dan Yuki terpental karena dorongan gelombang yang tidak terlihat.
“Apa itu tadi tadi?”(Sena). “Tidak mungkin...apa mungkin kau...”(Yuki). Seluruh tempat itu tertutup oleh asap. “Aku tidak menyalahkanmu, karena memang sudah banyak yang telah berubah sejak waktu itu...”(Sagura). Saat asap mulai menghilang, terlihat wujud Sagura yang berbeda dari sebelumnya. “Mustahil...tidak mungkin kau masih hidup?! Tidak mungkin!”(Yuki). Yuki yang masih sangat terkejut, langsung lemas dengan wajah seakan tidak percaya. “Kakak! Kakak kenapa?”(Sena). “Ini buruk...benar-benar buruk...”(Yuki). “Kakak...belum pernah aku melihatnya sampai seperti ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena masih bingung dengan apa yang terjadi. “Hei! Sebenarnya apa yang kau lakukan pada kakakku?!”(Sena). “Tidak ada...aku sama sekali tidak melakukan apapun...”(Sagura). Sagura perlahan mendekati Sena dan Yuki. “Kau...”(Sena). Sena terlihat kaget dengan perubahan wujud Sagura. “Kenapa? Sudah menyerah, ya?”(Sagura). “Sial!”(Sena). Dengan gemetar, Sena berusaha bangkit untuk mengahadapi Sagura, namun Yuki tiba-tiba menahan Sena. “Jangan Sena...sudah cukup...kita tidak mungkin sebanding dengannya...”(Yuki). “Tunggu dulu...apa itu artinya kakak sudah menyerah?! Apa kakak sudah patah semangat?!”(Sena). “Percuma...tidak ada gunanya...”(Yuki). “Tapi kak! Dia...”(Sena). “Aku bilang tidak, ya tidak!”(Yuki).
Sagura pun berhenti tepat di hadapan Sena dan Yuki. “Bagaimana? Apa harus kita akhiri sekarang?”(Sagura). Sena terlihat bingung. Yuki perlahan bangkit. “Kakak?”(Sena:Dalam Hati). “Sena...saat aku bilang lari, kau larilah. Jangan pernah menoleh ke belakang...”(Yuki). “Tunggu...apa maksud kakak sebenarnya?”(Sena). Yuki terlihat sedang merencanakan sesuatu. Sementaran itu, Hana dan teman-temannya berhasil merangsak masuk. “Ayo! Kita harus cepat!”(Hana). “Tunggu dulu...sebaiknya kita...”(Mayumi). “Kau ini, masih muda sudah banyak mengeluh!”(Saki). “Kau tau kan, tubuhku ini tidak sekuat tubuhmu tau!”(Mayumi). “Haaahhh...ya ya ya...”(Saki). “Sebentar lagi Sena, tunggulah kami sebentar lagi...”(Hana:Dalam Hati). Di luar bangunan, Ryuto dan Moku masih bertarung. “Bertarung tanpa alasan yang jelas...kau seperti harimau yang tersesat...”(Moku). “Apa benar begitu...”(Ryuto). Kedua senjata mereka terus beradu satu sama lain. “Bukankah tujuan kita sebelumnya sama?”(Moku). “Itu hanya di awalnya...”(Ryuto). “Jadi kau pikir, kau bisa melarikan diri?”(Moku). “Tidak juga...”(Ryuto). Dari kejauhan, terlihat sekelompok orang sedang menuju ke suatu tempat. “Aku harap kita masih sempat.”(Unknow 1). “Yah...semoga saja...”(Unknow 2). Mereka terus melaju, sementara itu, sesuatu telah terjadi di tempat Sena. Sagura sudah terlihat bersiap untuk melancarkan serangan. “Apa ada kata terakhir?”(Sagura). Yuki terdiam sejenak. “Pergilah ke neraka!”(Yuki). Tiba-tiba, Yuki mengeluarkan sesuatu yang menyebabkan Sagura seketika tidak bisa bergerak. “Jadi sejak tadi...”(Sagura:Dalam Hati). “Sekarang Sena!”(Yuki). Sena langsung melarikan diri tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu. “Ternyata kau masih menguasainya, ya?”(Sagura). “Walau aku membencinya, tapi teknik ini ada gunanya juga.”(Yuki). Sagura hanya terdiam. Saat Sena sudah hampir sampai di depan jalan keluar, tiba-tiba Sena berhenti. “Sena! Kenapa kau berhenti?! Cepat lari!”(Yuki). Sena terlihat menahan emosinya. “Tidak! Tidak bisa!”(Sena). “...”(Yuki). “Aku tidak bisa seperti ini!”(Sena). “Bodoh! Kenapa dia harus berhenti?!”(Yuki:Dalam Hati). Tiba-tiba, saat Sena sedang berpaling ke arah Yuki, ada seseorang yang berdiri di belakangnya. “Sepertinya, kesempatan terakhirmu hanya sampai di sini saja...Yuki.”(Unknow). “Kau...”(Yuki). Keadaan menjadi semakin di lepas kendali. Teman atau lawan membaur jadi satu dalam medan pertempuran ini.



To Be Continue...

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks