Chapter 42
(Cold Eyes)
Di suatu tempat, terlihat Kira sedang berjalan menyusuri sebuah jalanan kecil. Dari kejauhan terlihat Suto berdiri bersandar pada tembok sebuah bangunan. “Aku tak menyangka kalau dia bisa berpikir begitu.”(Suto). Kira pun berhenti di depan Suto. “Dia memang berhak begitu, yang bisa ku lakukan hanya menasehatinya.”(Kira). “Aku rasa dia akan memilih jalan yang tidak seharusnya dia lewati.”(Suto). “Aku tau itu...”(Kira). “Lalu apa tindakanmu?”(Suto). Kira hanya terdiam. Di tempat lain, Sena sedang duduk terdiam di bangku panjang di pinggir jalan. Sena teringat dengan kejadian yang menimpa dia dan Yuki. Sena perlahan meneteskan air mata, namun dia langsung teringat dengan kata-kata Kuroda. “Temui aku di tempat di mana kau berlatih dengan Kira setelah sembuh, itu pun kalau kau masih bisa bergerak dan ingin membalaskan dendammu.”(Kuroda). Sena perlahan berdiri, namun tepat di hadapannya, ada Hana yang telah menemukannya. “Akhirnya kau ketemu juga...”(Hana). Sena hanya terdiam melihat Hana. Hana yang seakan mengerti perasaan Sena, mulai terlihat khawatir. “Aku mohon jangan...”(Hana). Sena tetap terdiam dan mulai melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi Hana berusaha menghalanginya. “Tidak boleh! Kau tidak boleh seperti ini! Dendam tidak akan membuat siapa pun bahagia! Termasuk Kak Yuki! Seandainya dia hidup, apa kau ingin melihat dia terluka?”(Hana). Sena berjalan melewati Hana, tapi Hana berbalik dan meraih tangan Sena. “Aku mohon...demi Kak Yuki...”(Hana). “Maafkan aku...”(Sena). Sena melepaskan genggaman Hana dan berjalan meninggalkannya.
Hana yang melihat Sena pergi, seketika menangis. Hana teringat dengan kata-kata Yuki. “Kalau sesuatu terjadi padaku, aku mohon...jagalah Sena. Hanya kau yang bisa memahami perasaannya.”(Yuki). “Kak Yuki...maaf...aku tidak bisa menjaganya...”(Hana:Dalam Hati). Di dalam hutan, terlihat Kuroda sudah sampai di sebuah tempat mirip kuil. “Sudah lama sekali...”(Kuroda). “Apa yang akan kita lakukan?”(Sagura). “Sesuai dengan keinginan awal kita, kita pasti akan mendapatkannya.”(Moku). “Tenang saja...impian itu...sekarang tepat di depan kita...”(Kuroda). Sedangkan di tempat lain, Sena dengan langkah yang mantap terus berjalan menuju tempat yang dimaksud Kuroda. Sena terus teringat dengan kenangannya bersama Yuki. Sampai di sebuah tempat, dia berhenti. “Kalau kau juga bermaksud menghentikanku, aku tidak punya pilihan lain selain menghadapimu.”(Sena). Ternyata ada seseorang yang sudah berdiri di kejauhan di depan Sena yang tak lain adalah Ryuto. “Kau salah dengan satu hal. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan aku lakukan, aku ke sini hanya untuk mengetest sejauh mana kemampuanmu jika kau memang ingin membunuhnya.”(Ryuto). “Kedengarannya menarik, ini bisa jadi pemanasan yang bagus.”(Sena). Sena tiba-tiba menatap Ryuto dengan tatapan tajam, kosong, dan hanya berisi kebencian. “...”(Ryuto). Ryuto mengeluarkan senjatanya begitu juga dengan Sena. Angin berhembus kencang dan menerbangkan dedaunan. Mereka berlari, berhadapan satu sama lain. Sebuah daun yang terbang tepat di hadapan keduanya. Dengan sekejap kedua senjata mereka beradu sekaligus membelah daun itu.
Tanpa berkata-kata, mereka terus menyerang satu sama lain. “Dia jauh lebih mengerikan dari perkiraanku. Apa ini karena emosinya?”(Ryuto:Dalam Hati). Mereka terlihat seimbang, baik dalam kemampuan, kekuatan, kecepatan, dan semuanya. “Kalau begini...”(Ryuto:Dalam Hati). Sena terus menyerang Ryuto dengan membabi buta, namun Ryuto berhasil menghindari setiap serangannya. Dengan cepat Sena mengayunkan samurainya ke arah Ryuto, namun Ryuto telah membaca itu. “Dengan ini...mungkin bisa...”(Ryuto:Dalam Hati). Senjata Ryuto berhasil menahan Sena. “Dengan ini semua, kau bahkan tak akan mampu menyentuhnya.”(Ryuto). Sena yang senjatanya berhasil ditahan dengan seketika mengeluarkan kekuatan yang luar biasa. “!!!”(Ryuto). Ryuto yang tidak kuat menahan itu langsung terdorong mundur cukup jauh. “Ini...apa mungkin ini...”(Ryuto). “Urusanku bukan di sini, kau hanya membuang waktuku.”(Sena). Ryuto menatap ke arah Sena dengan rasa tidak percaya, sedangkan Sena hanya membalasnya dengan tatapan dingin. Sena kembali meneruskan perjalanannya dan melewati Ryuto yang hanya terdiam. Tatapan dingin yang menusuk tulang telah membungkus rasa dendam yang membara dalam dirinya.
To Be Continue...
