Chapter 40
(Missing)
Keesokkan harinya, Hana terlihat tertidur di meja. Sinar matahari pagi mulai membangunkannya. “Mmmm...sudah pagi...”(Hana:Dalam Hati). Hana melihat ke arah tempat tidur Sena, dan terlihat selimut menutupi seluruh kasur dengan tonjolan di tengahnya. “Sena...Sena...”(Hana). Hana mencoba membangunkan Sena tapi tidak ada jawaban. “Mungkin dia masih lelah...Sebaiknya aku buatkan minuman dulu.”(Hana:Dalam Hati). Hana pun ke dapur untuk membuat minuman sekaligus sarapan Sena. Setelah beberapa saat, Hana kembali ke samping tempat tidur Sena. Hana kembali berusaha membangunkan Sena. “Sena...bangun, ini aku buatkan sarapan.”(Hana). Hana mulai merasa curiga, karena sedari tadi tidak ada jawaban. Hana akhirnya memutuskan untuk membangunkan Sena dengan menggoyang-goyangkan tubuh Sena. “Hei...Sena...Ayo bangun...sudah pagi.”(Hana). “Tetap tidak ada jawaban. Hana yang semaki penasaran memutuskan untuk menarik selimut itu. “!!!”(Hana). Betapa terkejutnya Hana, ternyata yang ada dibalik selimut itu hanya guling beserta bantal saja. Sontak Hana panik dan kebingungan. Dia langsung berlari ke arah pintu. Saat dia membuka pintu, terlihat Tora yang bermaksud untuk masuk ke dalam. “Eh...Hana, ada apa?”(Tora). “Sena! Sena!”(Hana). “Sena? Dia kenapa? Apa ada yang terjadi?”(Tora). “Dia...dia pergi tanpa memberitauku! Aku bingung harus mencarinya ke mana!”(Hana). Tora yang mendengarnya juga ikut panik. “Ini gawat! Kau segera hubungi teman-teman yang lain! Biar aku yang akan mencarinya terlebih dahulu!”(Tora). “Baik!”(Hana).
Hana dan Tora pun berpencar. Hana pergi menuju ke rumah Saki, sedangkan Tora berkeliling ke semua tempat untuk mencari Sena terlebih dulu. “Apa?!(Saki). “Sudahlah, penjelasannya nanti saja! Sebaiknya kita kumpulkan teman-teman sebanyak mungkin lalu segera berpencar.”(Hana). “Baiklah! Ayo!”(Saki). “Sena! Oi...Sena!”(Tora). Sekian lama Tora mencari ke sana-ke mari tapi belum ketemu. Tora pun bertemu dengan rombongan Hana dan teman-teman yang lain. “Bagaimana?!”(Hana). “Nihil! Aku rasa dia pasti sudah jauh.”(Tora). “Jangan menyerah! Kita pasti bisa menemukannya!”(Saki). “Kalau begitu, kita berpencar jadi dua dan tiga orang. Kita berpencar sejauh mungkin, lalu kita berkumpul lagi di taman satu jam kemudian.”(Uno). “Aku setuju! Lebih cepat lebih baik!”(Saki). Mereka pun berpencar menjadi dua dan tiga orang, yaitu Hana bersama Saki dan Mayumi, sedangkan Tora dengan Uno. Mereka berpencar sangat jauh, bahkan ke tempat yang sama sekali belum pernah mereka datangi, tapi tidak membuahkan hasil. Satu jam akhirnya berlalu, mereka pun terlihat berkumpul di taman. “Tidak ada...kami sama sekali tidak menemukannya.”(Tora). “Kami juga. Sama sekali tidak ada yang melihat Sena.”(Saki). “Bagaimana ini? Apa kita harus melaporkan ini ke polisi?”(Mayumi). “Aku justru berpikir jika ini mungkin ada kaitannya dengan kejadian waktu itu. Ya, itu hanya asumsiku saja.”(Saki). “Kalau kita tidak menemukannya secepat mungkin, aku takut akan terjadi hal buruk lagi padanya.”(Hana). “Hana, apa kau pernah tau, mungkin tentang tempat rahasia atau semacamnya dari Sena yang biasa dia kunjungi?”(Uno). “Tidak...sama sekali tidak pernah...”(Hana). “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”(Mayumi).
Di tempat lain, terlihat Kira sedang duduk di atap sebuah gedung. Kira teringat dengan kematian Yuki. “Sial! Jika saja...Aku...”(Kira). Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari arah belakang Kira. “Ya...jika saja kau datang lebih cepat, dia tak akan berakhir seperti itu...”(Unknow). “...”(Kira). Orang itu pun terus mendekat lalu berhenti tepat di belakang Kira. “Begitu...kau memang pantas untuk menyalahkanku. Aku memang orang yang tidak berguna.”(Kira). “Tidak juga...pada awalnya, aku juga merasakan hal yang sama denganmu saat ini.”(Unknow). “Aku tau itu...dia juga...orang yang sangat berharga bagiku.”(Kira). “Lalu kenapa? Kenapa kau tidak ada?”(Unknow). “Itu juga...hal yang sangat aku sesali...”(Kira). “Seingatku, kaulah orang yang bilang padaku, agar jangan pernah menyesali sesuatu di masa lalu.”(Unknow). “Memang benar...lalu...apa yang akan kau lakukan sekarang...Sena...”(Kira). Ternyata, orang yang berdiri di belakang Kira adalah Sena yang sedang memegang samurai miliknya. Saat semua orang sedang mencarinya, dia justru berada di tempat yang tak terduga.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar