Chapter 39
(Tears and Memory)
Sena masih berdiri di depan makam Yuki. Dari kejauhan, terlihat teman-teman Sena tidak bisa melakukan apa-apa melihat kondisi Sena yang sekarang. Dengan percaya diri, Hana melangkah maju mendekati Sena. “Aku ada di sana...tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku memang tidak berguna...”(Sena). “Tidak begitu, situasinya memang sulit, bahkan untuk orang sepertimu. Aku tau ini berat, tapi...”(Hana). “Aku ini Hyper! Tapi kenapa aku tidak bisa menolongnya! Kenapa?!”(Sena). Sena semakin terpuruk, namun dengan lembut, Hana mencoba mendekap Sena dari belakang. “Menangislah...Aku, kami semua, akan selalu ada untukmu...”(Hana). “Kau tidak mengerti! Kau sama sekali tidak mengerti! Seandainya...seandainya aku tidak ceroboh, ini pasti tidak akan terjadi!”(Sena). “Tidak semuanya adalah kesalahanmu...kita juga tidak ada yang tau, jika akan berakhir seperti ini. Kau harus kuat...”(Hana). Sena teringat dengan kenangannya bersama kakaknya. Banyak memori indah di antara mereka, namun sekarang sudah lenyap. Sena yang tidak kuasa menahan kesedihannya langsung menjatuhkan benda yang digenggamnya dan dia jatuh bersimpuh meratapi kepergian Yuki. Hana hanya bisa menenangkan Sena semampunya. “Lepaskan saja Sena...kalau itu bisa membuatmu membaik...maka lepaskan saja...”(Hana). Sena kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Hana yang seakan mampu merasakan kesedihan Sena akhirnya juga ikut meneteskan air mata, begitu juga teman-teman Sena yang lainnya.
Hari sudah malam. Di apartement Sena, Sena terlihat sudah tertidur pulas, sedangkan yang lainnya berada di luar. “Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu.”(Mayumi). “Jaga dia baik-baik, jangan kau apa-apakan dia, ya.”(Saki). “Iya, kalian bisa serahkan semuanya pada kami.”(Tora). “Kami akan usahakan sepagi mungkin untuk datang kemari.”(Uno). “Terima kasih...”(Hana). Semuanya pulang, hanya tinggal Hana dan Tora yang ada di sana. “Kau sendiri bagaimana?”(Tora). “Aku akan di sini menjaga Sena. Aku sudah minta izin pada ibuku, dia bilang tidak apa-apa aku menjaganya.”(Hana). “Mmmmm...baguslah kalau begitu. Memang kau, satu-satunya orang yang dia butuhkan sekarang, karena hanya kau yang bisa memahami dia.”(Tora). “Iya...mungkin memang benar...”(Tora). “Kalau begitu, aku akan masuk ke kamar ku, kalau kau butuh sesuatu, langsung saja panggil aku.”(Tora). “Iya...”(Hana). Tora pun masuk ke kamarnya, sedangkan Hana masuk ke kamar Sena. Saat Hana selesai menutup pintu, ternyata Sena bangun. “Mereka sudah pergi...”(Sena). “Eh, maaf aku membangunkanmu.”(Hana). “Tidak...aku memang sejak tadi belum tidur.”(Sena). “Begitu...biar aku buatkan teh, ya.”(Hana). “Iya...”(Sena).
Hana ke dapur membuatkan teh, lalu kembali. “Jadi sedari tadi...kau tidak tidur?”(Hana). Sena hanya terdiam. “Kenapa? Kau kan harus banyak istirahat.”(Hana). “Aku tidak bisa. Setiap kali aku menutup mataku, aku pasti terbayang dengan kakak...dan...itu...sangat menyakitkan...”(Sena). “Tapi...kenapa kau tadi...”(Hana). “Aku tidak ingin membuat mereka cemas, terutama kau. Tapi, kenapa kau masih di sini?”(Sena). “Tidak apa-apa, aku sudah mengatakan tentang hal ini pada ibuku, jadi aku akan menemanimu.”(Hana). “Gara-gara aku...kau jadi seperti ini...”(Sena). “Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku justru senang bisa...membantu...teman yang...sedang kesusahan...begitu...hehehe...”(Hana). Sena mulai tersenyum. “Terima kasih...”(Sena). “Nah, sekarang kau istirahatlah, biar aku yang akan menjagamu.”(Hana). “I...iya...”(Sena). Sena kembali berbaring di tempat tidurnya, sementara Hana duduk di samping meja di dekatnya. Sena terlihat memikirkan sesuatu. “Hei...”(Sena). “Ada apa?”(Hana). “Ingat tidak, waktu aku, kau, dan kakak bermain bersama dulu?”(Sena). Hana terlihat mengingat kembali. “Itu ya...Aku selalu mengingatnya...”(Hana). “Lucu sekali ya, kita bermain...dari siang sampai matahati tenggelam.”(Sena). “Iya...bahkan karena asyiknya bermain, kita sampai lupa waktu, dan akhirnya membuat ibuku khawatir karena kita masih bermain sampai larut...”(Hana). “Benar...Tidak terasa, hidup itu singkat, ya. Padahal aku masih merasa baru kemarin kita melakukan semua itu, tapi sekarang...semua sudah tidak mungkin lagi...”(Sena). “Tidak juga...”(Hana). “Eh?”(Sena). Hana terlihat tersenyum ke arah Sena. “Selama kita masih punya kenangan tentang Kak Yuki, dia tidak akan hilang dari kita. Karena dia...selalu bersama kita...seperti bintang di langit sana...”(Hana). “Kau benar...apa pun yang terjadi, hidup harus terus berjalan...”(Sena). Cahaya bintang, pengobat luka dan rindu dengan dia yang di sana.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar