Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 38 )

Chapter 38

(My Dear Sister)

Suasana berkabung sangat terasa. Sena yang masih belum sadar, terbayang dengan Yuki. Sena berusaha meraih Yuki, tapi Yuki semakin menjauh dan akhirnya pergi. “Apa pun yang terjadi, kakak pasti akan selalu bersamamu...”(Yuki). “Kakak! Jangan pergi!”(Sena). Sena yang tak mampu meraih Yuki seperti tenggelam dan tak mampu untuk bangkit. “Apa...apa yang bisa aku lakukan...?”(Sena:Dalam Hati). Kembali ke kenyataan. Sena perlahan-lahan mulai sadar. “Aku...”(Sena:Dalam Hati). Hana, Saki, Tora, dan teman-teman Sena yang lain sudah ada sekeliling Sena. “Kau sudah sadar rupanya.”(Saki). “Kau baik-baik saja?”(Hana). “Di mana ini?”(Sena). “Ini di apartementmu.”(Uno). Sena berusaha untuk duduk. “Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih belum kuat.”(Hana). Sena seketika langsung teringat dengan Yuki. “Kakak?! Bagaimana dengannya?!”(Sena). Semua hanya bisa terdiam. “Hei! Katakan sesuatu!”(Sena). Semuanya masih terdiam dengan raut wajah terpukul. “Kalian ini kenapa?! Tolong jawab pertanyaanku...”(Sena). Hana dengan halus memegang tangan Sena. “Sena...aku harap kau bisa menerimanya...”(Hana). “Menerima?! Menerima apa?! Aku sama sekali tidak paham.”(Sena). “Kau ini bagaimana...tentu saja...”(Saki). Mayumi langsung memegang pundak Saki dan hanya menggelengkan kepala. “...”(Saki).
Sena yang masih merasa sangat bingung tiba-tiba berontak dan bangkit dari tempat tidurnya. “Cukup! Aku benar-benar muak dengan semua ini!”(Sena). Sena pun lari sedangkan Hana berusaha menghentikannya. “Sena! Kau mau ke mana?!”(Hana). Saat Sena mencoba keluar melalui pintu, ternyata Ryuto sudah berdiri di samping luar pintu. “Jangan bodoh.”(Ryuto). Sena yang mendengar suara Ryuto langsung menoleh ke arah Ryuto. “Kau! Kenapa kau ada di sini?!”(Ryuto). “Itu bukan urusanmu. Lagipula, apa pun yang kau lakukan hanya sia-sia.”(Ryuto). “Cih! Aku tidak punya waktu untuk ini!”(Sena). Sena kembali berlari. “Dia sudah mati!”(Ryuto). Sena langsung berhenti. “Apa katamu?”(Sena). “Apa kau tuli, aku bilang dia sudah mati.”(Ryuto). “Dia...siapa maksudmu dia?”(Sena). Ryuto seketika terdiam. Sena yang tidak tahan, langsung kembali dan menarik baju Ryuto. “Katakan! Siapa maksudmu dia?! Jawab!”(Sena). “Dia...Kakakmu.”(Ryuto). Sena langsung terkejut. “Apa kau sudah lupa? Atau kau sama sekali tidak mau mengingatnya. Saat kakakmu mati dalam dekapanmu...”(Ryuto). Sena langsung teringat dengan saat-saat terakhir Yuki. Yuki melindungi Sena dari serangan Sagura dengan menggunakan tubuhnya. “Kakak!”(Sena). “Sena...maafkan aku...aku...sudah membohongimu...selama ini...”(Yuki). “Tidak...kakak harus hidup! Kakak harus bertahan!”(Sena). Yuki yang mendengarnya hanya tersenyum. “Kau...memang orang yang keras kepala...Sena...”(Yuki:Dalam Hati). Sena hanya bisa menangis melihat keadaan Yuki, lalu Sagura yang sedari tadi menyerang Yuki langsung melempar tubuh Yuki dan berusaha menyerang Sena. “Tunggu...”(Kuroda). Sagura langsung menghentikan serangannya. “Hanya aku...yang bisa melakukannya...”(Kuroda). Kuroda mendekati Sena yang tiba-tiba menjadi tidak bisa bergerak. “Itu...adalah milikku...”(Kuroda).
Seketika, tubuh Sena mengeluarkan cahaya yang secara perlahan masuk ke dalam benda yang dibawa Kuroda. “Aaaaaaakkkkkkkkhhhhh!!!”(Sena). Setelah beberapa saat, cahaya tersebut menghilang, seakan terserap sepenuhnya ke dalam benda itu. Sena seakan-akan hampir hilang kesadaran. “Sekarang, urusanku denganmu sudah tidak ada lagi...”(Kuroda). “Apa lebih baik, kita menghancurkan mereka?”(Sagura). “Tidak perlu...setidaknya, biarkan mereka menikmati detik-detik terakhir mereka di dunia ini.”(Kuroda). Kuroda dan Sagura terlihat akan meninggalkan tempat itu. Sena yang hampir tidak sadar melihat ke arah Yuki. “...”(Sena). Sena perlahan mendekati Yuki dengan berurai air mata. Mengetahui hal itu, Kuroda dan Sagura berhenti dan memperhatikan Sena. “Sungguh pemandangan yang mengharukan...”(Kuroda). Sena terus berjuang hingga akhirnya sampai di samping Yuki. “Kakak...”(Sena:Dalam Hati). Sena dengan perlahan mendekap Yuki yang sudah sekarat. “Sena...aku ingin mengatakan...sesuatu...dekatkan...telingamu...”(Yuki). Sena mendekatkan telinganya, lalu Yuki terlihat membisikkan sesuatu. Sena langsung terkejut, sedangkan Yuki tersenyum dan tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa. Tangisan Sena mengalir semakin deras hingga dia tak sadarkan diri. Kembali ke waktu sekarang, Sena terlihat berdiri sambil menangis di depan makam seseorang, yang tak lain adalah Yuki. Sena terlihat menggenggam sesuatu. Sedih dan penyesalan menyelimuti hati Sena yang hancur remuk tak berbekas.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks