Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 37 )

Chapter 37

(Too Late)

Seseorang telah berdiri di belakang Sena. Sementara itu, pertarungan antara Ryuto dengan Moku terlihat sudah mencapai batasnya. Keduanya terlihat mulai kelelahan dengan luka di sekujur tubuh mereka. “Baru kali ini, aku menemui lawan sepertimu. Kau benar-benar di luar dugaan.”(Moku). “Jujur, aku sendiri juga tidak terlalu yakin dengan diriku...”(Ryuto). Dengan napas yang terengah-engah, Hana dan teman-temannya mulai melihat sebuah pintu dari kejauhan. “Hana! Aku rasa itu tempatnya.”(Mayumi). “Sebaiknya kita harus percepat langkah kita!”(Saki). Hana dan yang lainnya pun sampai di depan pintu. Hana berusaha untuk membuka pintu, tapi terkunci. “Bagaimana ini? Pintunya tidak mau terbuka.”(Hana). “Mungkin terkunci dari dalam.”(Mayumi). “Hei! Siapa pun yang ada di dalam! Cepat buka pintunya!”(Saki). Tak lama berselang, seseorang terlihat mendekati mereka. “Berapa kali pun kau mencoba, tidak akan ada yang mendengarmu.”(Unknow). “Siapa itu?!”(Hana). “Jangan-jangan kita akan dapat masalah lagi.”(Mayumi). Ternyata yang datang adalah Hazenda Karasu, salah satu bawahan Kuroda. “Kalian sama sekali tidak menyadarinya, tapi kalian telah masuk dalam perangkapku.”(Karasu). “!!!”(Hana, Mayumi, Saki). “Semua tempat ini, adalah perangkapku.”(Karasu). “Itu tidak mungkin, tidak mungkin!”(Saki). “Apa benar begitu...”(Karasu). Tiba-tiba seluruh tempat itu berubah menjadi kosong. “Apa-apaan ini?!”(Mayumi). “Saki! Mayumi!”(Hana). Semua menjadi gelap, mereka terpisah satu sama lain, dan hanya terdengar gema suara Karasu. “Ini adalah kemampuanku...ruang hampa. Selama kalian di sana, kalian tidak akan bisa ke mana-mana.”(Karasu). “Bagaimana ini? Aku...Apa yang harus aku lakukan?”(Hana:Dalam Hati). Hana mulai terlihat putus asa dan merasa bersalah. Di tengah keputusasaannya, Hana teringat dengan Sena. “Aku tidak akan menyerah! Apa pun yang terjadi!(Sena). “Aku tidak akan mati sebelum aku bisa menggapai impianku!”(Sena). “Kalau aku punya hal yang berharga di dunia ini, itu pasti adalah teman-temanku.”(Sena). “Sena...apa aku...bisa...menjadi sepertimu...?(Hana:Dalam Hati).
Tiba-tiba, terdengar gema suara yang berbeda. “Kalian semua, masih punya harapan. Jadi, jangan menyerah di sini...”(Unknow). “!!!”(Hana). Seketika, kegelapan yang menyelimuti Hana dan teman-temannya lenyap. “Ini...”(Hana). “Hana!”(Mayumi). “Saki, Mayumi...”(Hana). “Kalian berdua! Tapi bagaimana bisa? Siapa yang sudah menolong kita?”(Saki). Ternyata seseorang sudah berdiri di samping mereka yang tidak lain adalah Kouta. “Kak Kouta?!”(Hana). Di tempat Ryuto, Ryuto terlihat sudah terdesak. Namun tak lama berselang, terlihat juga seseorang yang datang yaitu Suto. “Kau...”(Ryuto). “Kerja bagus.”(Suto). “Akhirnya kau datang juga...”(Moku). “Kita bertemu lagi rupanya.”(Suto). Sementara itu, di dalam ruangan di mana Sena berada juga terlihat ada seseorang yang datang. “Kau terlambat, Kira...”(Kuroda). Orang yang datang ke ruangan itu adalah Kira. Terlihat darah tersebar di mana-mana. “Sial!”(Kira:Dalam Hati). Ternyata, Yuki sudah tergeletak di dekapan Sena yang juga terlihat terluka parah dan tak sadarkan diri berurai air mata. Dengan tatapan tajam, Kira langsung maju berusaha menyerang Kuroda, tapi berhasil digagalkan Sagura. “Tidak semudah itu...”(Sagura). “Aku tidak punya urusan denganmu!”(Kira). Tiba-tiba, Kira berhasil melewati Sagura yang seketika langsung jatuh tersungkur. “Anak itu belum mati...”(Kuroda). “!!!”(Kira). Kira tiba-tiba berhenti saat mendengar perkataan Kuroda. “Tapi aku ragu dengan yang satu itu...”(Kuroda). Kira langsung melihat ke arah Yuki yang tidak bergerak sama sekali. Kira tanpa pikir panjang langsung menyerang Kuroda tapi mereka terlihat seimbang. “Aku berikan anak itu kesempatan hidup, sebagai imbalan atas apa yang sudah dia berikan padaku. Tapi, aku tidak bisa untuk perempuan itu, karena dia cukup mengganggu.”(Kuroda). Senjata mereka beradu dengan kuat, hingga akhirnya kedua senjata mereka terhempas. Namun dengan sigap, Kira berusaha mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tiba-tiba, Kuroda sudah ada di sampingnya dan langsung meraih tangannya. “Tidak sekarang Kira. Aku akan berhadapan denganmu lain kali. Jika saja kau tadi datang lebih cepat, aku pasti akan berubah pikiran, tapi sayangnya aku sudah kehabisan waktu.”(Kuroda). Kira berusaha memukul Kuroda tapi Kuroda berhasil menghindar. “Sampai jumpa Kira...Aku harap bisa bertemu lagi denganmu...”(Kuroda). Kuroda dan Sagura pun menghilang. Moku dan Karasu yang menyadari itu juga ikut menghilang. Kira langsung mendekati Sena yang tak sadarkan diri dan Yuki yang sudah terbaring tak bernyawa. Hujan pun turun, salah seorang yang amat berharga baginya telah pergi.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks