Chapter 41
(You’re Me)
Dengan wajah sayu, Sena menatap ke arah Kira. “Memang ada hal yang sangat ingin aku lakukan saat ini.”(Sena). Kira pun menengok ke arah Sena. Kira memperhatikan secara seksama tatapan mata Sena, lalu kembali memalingkan pandangannya dari Sena. “Sudah ku duga. Kau memang sama denganku...bahkan sejak awal kita bertemu.”(Kira). “Tidak ada ceritanya aku sama denganmu. Aku sama sekali tidak ingin jadi orang sepertimu.”(Sena). “Lalu...apa yang ingin kau lakukan saat ini? Itu sama sekali tidak akan mengubah apa pun.”(Kira). “Aku tidak minta pendapatmu!”(Sena). Kira lalu berdiri dan menghadap Sena. “Lantas kenapa? Apa ada yang salah dengan semua itu?”(Kira). Genggaman tangan Sena yang memegang samurainya semakin mengeras, seakan Sena sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya. “Aku ingin membuktikannya sendiri! Seberapa kuat diriku!”(Sena). “Hanya itu? Kau pikir untuk apa latihanmu selama itu?”(Kira). Sena tanpa berbicara langsung menarik samurainya dan berusaha menyerang Kira. Dengan reflek yang lebih cepat, Kira mampu membalik serangan Sena. “Begitu rupanya, dia telah memberikan itu padamu?”(Kira). “Aaaaaa!!!!!”(Sena). Sena terus-menerus berusaha menyerang Kira, namun nihil. “Kalau hanya segitu, seujung jari pun, kau tak akan mungkin meraihnya.”(Kira). “Diaaammm!!”(Sena). Dengan penuh emosi, Sena terus menyerang Kira hingga dia terlihat kelelahan. “Untuk apa? Apa ini sangat berarti bagimu?”(Kira). “Tentu saja! Dia yang bilang padaku...Bahwa hanya kau, satu-satunya orang yang mampu mengalahkannya! Karena itu...dengan cara ini, aku pasti bisa!”(Sena). “Bisa? Memang apa yang bisa kau lakukan?”(Kira). Sena kembali berusaha menyerang Kira. “Membunuhnya!!!”(Sena).
Kira hanya terdiam, dan dengan cepat dia berhasil menghindari serangan Sena, lalu membuang samurai Sena dan menggantungkan Sena di ketinggian dengan menarik baju Sena. Sena nampak sangat kesal dan tidak bisa berkutik. “Sial!!”(Sena:Dalam). “Satu pertanyaanku saat ini. Apa arti dari semua ini bagimu?”(Kira). “Segalanya! Segala-galanya!”(Sena). Kira terdiam sejenak. “Begitu...lalu membuat kakakmu menangis?”(Kira). “Kau tidak tau apa-apa! Kau sama sekali bukan siapa-siapa! Kalau dia memang berharga bagimu, kenapa kau tidak datang dan membunuh orang-orang itu?! Kenapa?!”(Sena). “Hidupku terlalu singkat untuk dipenuhi dengan hal yang serendah itu.”(Kira). Sena yang mendengar perkataan Kira, menjadi semkain emosi. “Kau memang tidak punya hati! Di mana perasaanmu saat dia mati?! Kau bahkan tidak ada saat pemakamannya! Apakan itu yang disebut dengan menghargainya?!”(Sena). “Kau itu...sama denganku...denganku yang dulu...”(Kira). “Aku sudah muak dengan ceramahmu! Kenapa kau tidak melepaskanku sekarang dan biarkan saja aku mati?! Bukankah itu yang kau harapkan?!”(Sena). Kira menatap kedua mata Sena dengan tajam. “Itukah keinginanmu?”(Kira). Kira dengan tiba-tiba melepaskan Sena. Sena pun terhempas, akan jatuh. Saat Sena hampir jatuh, Kira dengan cepat meraih kaki Sena dan melempar Sena ke belakangnya. Sena terlempar hingga tepat di tengah atap gedung. “Kenapa? Kau...”(Sena). “Yang namanya penyesalan, itu selalu datang dia akhir. Kalau memang penyesalan datang di awal, maka semua manusia tidak akan mungkin melakukan hal konyol dalam hidupnya.”(Kira). Sena terlihat bingung. “Apa maksudmu?”(Sena). “Hidupmu masih panjang dan terlalu berharga untuk hal seperti itu.”(Kira). “Aku sama sekali tidak paham, apa yang kau maksud sebenarnya?”(Sena). “Kau akan tau, saat kau siap...”(Kira). Sena hanya terdiam sambil sedikit menahan emosi.
Tiba-tiba Kira melangkah ke pinggir atap gedung lalu menjatuhkan dirinya. “Hei! Apa kau sudah gila?!”(Sena). Dari kejauhan, Kira terlihat meneteskan air mata. Sena berlari ke tempat di mana Kira menjatuhkan diri. “Di mana dia?!”(Sena:Dalam Hati). Sena melihat ke bawah gedung, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang telah jatuh. “Apa yang dia maksud sebenarnya? Apa dia tau tentang sesuatu?”(Sena:Dalam Hati). Sena lalu menghampiri samurainya dan mengambilnya. “Kakak...apa Kira juga ada hubungannya dengan semua ini?”(Sena). Angin malam yang membawa Sena pada teka-teki yang tak terpecahkan. Di balik gemerlapnya lampu kota, tersimpan kegelapan yang siap untuk kembali.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar