Chapter 5
(Felling)
Di sebuah menara tinggi di tengah kota, terlihat seseorang berdiri membelakangi matahari sambil memandang pemandangan kota. “Aku rasa, mungkin ini waktunya...”(Unknow). Sena yang sebelumnya pingsan akhirnya siuman. Dia berada di apartementnya dan Hana terlihat sedang duduk di sampingnya. “Ini...”(Sena). Hana yang melihat Sena siuman terlihat terkejut. “Ah...Kak Yuki! Sena sudah sadar!”(Hana). “Ha...Hana...”(Sena). “Benarkah! Tunggu sebentar.”(Yuki). Yuki yang sebelumnya berada di dapur bergegas ke menghampiri keduanya. “Kau tak apa-apakan?”(Yuki). “Ka...kakak...”(Sena). “Syukurlah kalau begitu, biarku ambilkan air dulu.”(Yuki). “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang sakit, Sena?”(Hana). “Tidak...tidak ada yang sakit kok. Ngomong-ngomong, kenapa kalian ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?”(Sena). Yuki pun kembali dengan membawa air. “Kau tadi pingsan di pemakaman, aku yang membawamu pulang.”(Yuki). “Benar juga, aku tadi ke makam ayah dan ibu...”(Sena:Dalam Hati). “Huuuhhh...kapan kau mau belajar untuk tidak menyusahkan orang lain? Masih untung aku segera mencarimu.”(Yuki). Sena hanya terdiam. “Maaf sebelumnya kak, tapi tolong jangan memarahi Sena dulu, dia masih lemas.”(Hana). “Iya, aku tau. Aku cuma mengingatkan dia.”(Yuki).
Yuki pun memakai jaketnya dan beranjak pergi. “Kakak...kau mau ke mana?”(Sena). “Iya...Kak Yuki mau ke mana?”(Hana). “Aku baru ingat ada janji dengan temanku, jadi aku harus kembali sekarang. Oh ya, Hana...jika kau tak keberatan, tolong untuk sementara aku titip Sena, yah...walau mungkin dia akan baik-baik saja meski kau tinggal juga.”(Yuki). “Ummm...aku tak keberatan kok, mungkin aku bisa di sini agak lama.”(Hana). “Baguslah...maaf sudah merepotkanmu. Dan kau Sena, jangan macam-macam, paham?!”(Yuki). “Tidak kok kak...”(Hana). “Ya aku tau...”(Sena). Yuki mulai melangkah ke depan pintu. Saat dia akan membuka pintu, Sena memanggilnya. “Kakak!”(Sena). “Kenapa lagi?!”(Yuki). “Itu...maaf soal kejadian yang tadi, aku tidak seharusnya bersikap seperti itu. Maaf...”(Sena). “Haahh...kau memanglah adikku yang keras kepala. Tapi, itulah yaang membuatku tidak bisa marah padamu lebih dari semenit...”(Yuki).
Yuki pun membuka pintu dan pergi, Sena berusaha untuk bangun. “Kalau kau masih belum bisa bangun, sebaiknya berbaring saja. Kalau kau butuh sesuatu biar ku yang mengambilnya.”(Hana). “Tidak apa-apa, aku sudah agak membaik.”(Sena). “Ya, baiklah. Sebelumnya maaf jika aku kurang sopan, tapi aku tadi sempat mendengar pertengkaranmu dengan kakakmu, sebenarnya ada apa?”(Hana). “Tidak ada apa-apa, itu hanya pertengkaran biasa kok, kau tak perlu cemas.”(Sena). “Benar begitu...atau karena ada hal yang lain? Seingatku, kakakmu tak akan mungkin marah seperti itu, jika tidak menyangkut hal yang penting.”(Hana). “Benar kok, tidak apa-apa.”(Sena). “Begitu ya...syukurlah kalau begitu.”(Hana).
Sejenak suasana menjadi hening dan mereka berdua memalingkan wajah mereka satu sama lain, namun akhirnya Hana berusaha mencari topik pembicaraan. “Kamarmu terlihat kotor sekali, Sena.”(Hana). “Itu...”(Sena). “Biar aku bersihkan sedikit ya?”(Hana). “Itu...Hana, aku...”(Sena). “Lihat buku-buku ini, terlihat berantakan, biarku bereskan sebentar.”(Hana). “Umm...”(Sena). “Tenang saja, jika kau punya majalah dewasa sekali pun aku tak akan marah dan aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Lagipula itu sudah wajar ba...”(Hana). Sena pun memegang tangan Hana. “Maafkan aku...”(Sena). “Kenapa minta maaf? Kau kan tidak salah apa-apa.”(Hana). “Sebenarnya aku...”(Sena). “Ada apa, Sena?”(Hana). “Itu...aku...”(Sena). Sena terlihat berusaha untuk mengatakankan sesuatu pada Hana. Di antara mereka berdua, batas itu akhirnya semakin menghilang.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar