Chapter 19
(Inside Of Heart)
Hari ini, sudah terhitung tujuh hari sejak Sena pergi untuk berlatih bersama Kira. Banyak latihan yang telah dia jalani dan telah menampakkan hasil yang cukup memuaskan. Pagi ini, terlihat ada seseorang yang datang ke apartement Sena, yang tak lain adalah Hana. “Sena! Sena! Tidak ada jawaban. Apa dia belum pulang juga, ya?”(Hana). Terlihat Tora baru keluar dari apartementnya. “Oh, pagi Hana! Apa yang kau lakukan di situ?”(Tora). “Itu, Sena...apa dia masih belum pulang juga?”(Hana). “Ya, seperti itulah. Sejak waktu itu, aku sama sekali belum melihatnya sampai sekarang.”(Tora). “Begitu ya...”(Hana). “Sudah, tidak perlu cemas begitu. Sena pasti baik-baik saja kok, aku jamin. Dia kan orangnya kuat, apalagi sekarang dia sedang bersama Kak Kira, pasti dia baik-baik saja.”(Tora). “Umm...ya, aku juga percaya itu...”(Hana). “Oh ya, daripada hanya berdiri di situ, kenapa kau tidak ikut aku dan teman-teman yang lain jalan-jalan ke gunung saja? Kau bisa ajak teman kalau kau mau. Lebih banyak orang kan akan lebih seru.”(Tora). “Kedengarannya bagus juga. Kalau begitu, aku akan hubungi Saki dan Mayumi dulu. Siapa tau mereka berminat.”(Hana). “Baguslah! Jalan-jalan kali ini pasti akan seru!”(Tora).
Di hutan, Sena sedang melatih fisiknya dengan keras. “Sembilan ratus sembilan puluh sembilan...seratus...”(Sena). “Baik, aku rasa cukup untuk latihan fisiknya, istirahatlah dulu.”(Kira). Mereka pun beristirahat di bawah sebuah pohon. “Sudah berapa lama ya, kita di sini?”(Sena). “Mungkin sudah sekitar seminggu, memang kenapa?”(Kira). “Tidak ada apa-apa, aku hanya penasaran, bagaimana kabar mereka sekarang, ya?”(Sena). “Hmmm...Kau memikirkan teman-temanmu, ya?”(Kira). “Begitulah...”(Sena). “Oh ya, kalau tidak salah, kau pernah bilang, kalau kau punya kakak perempuan kan?”(Kira). “Ya, kenapa?”(Sena). “Tidak, aku hanya ingin tau saja...”(Kira). “Mmmm...ya, kalau di perhatikan sih, dia itu mungkin hanya beda dua tahun lebih muda darimu...”(Sena). “...”(Kira). “Hei, Kira...bisakah kau ceritakan sedikit tentang dirimu? Masa lalumu atau apalah itu.”(Sena). “Sebenarnya tidak ada yang istimewa dariku atau dari kehidupanku, ya bisa dibilang, hampir seperti kehidupan kebanyakkan orang.”(Kira). “Yang benar? Kau itu kan Hyper yang cukup kuat dan punya kemampuan tinggi, masa kau tidak punya kehidupan yang hebat seperti layaknya pejuang-pejuang begitu?”(Sena). “Dengar Sena, dia dunia ini, yang namanya Hyper itu tidak selamanya baik. Kau tentu tau, bahwa di luar sana banyak Hyperkuat yang justru menempuh jalan hidup yang berlawanan dengan kita. Jadi kau tak bisa menilai baik buruknya sesuatu hanya dari kekuatan dan kemampuannya saja.”(Kira). “Ya, aku tau...tapi dalam kasusmu itu kan lain. Kau itu kan Hyper yang baik. Buktinya juga sudah jelas bagiku.”(Sena). “Kalau hanya menilai seseorang seperti itu, kau pasti akan mudah tertipu, kau harus belajar hal itu.”(Kira). “Itu aku ju...Eh, kenapa kau bilang begitu?”(Sena). “Mungkin kau lihat aku seperti itu dari caraku selama ini, tapi jujur saja, aku tak sebaik itu dalam diriku...”(Kira). “...”(Sena).
Di jalan setapak di kaki gunung. Terlihat rombongan teman-teman Sena sedang berjalan menjelajahi hutan pegunungan. “Waaahh...udaranya benar-benar segar, ya!”(Saki). “Tentu saja, ini kan pegunungan yang masih lebat, tentu udara di sini pasti segar.”(Hana). “Seandainya saja aku bisa tinggal di sini terus, pasti enak, ya.”(Saki). Salah satu teman Tora, yaitu Katsuki Uno mengejek Saki. “Jangan mengkhayal terlalu tinggi, kau itu tak akan mampu bertahan di sini sendirian. Lagipula tempat ini juga terpencil, kau pasti akan kesulitan kalau mau mencari barang-barang keperluan sehari-harimu.”(Uno). “Huh...siapa juga yang bilang kalau aku mau tinggal sendiri, aku yakin keluargaku pasti juga setuju!”(Saki). “Paling hanya berlibur sebentar saja...”(Uno). “Mmmm!!”(Saki). “Hei lihat! Kita bisa melihat pemandangan kota dari sini!”(Mayumi). “Iya...ternyata kalau dilihat dari sini sangat jelas, ya.”(Hana). “Oh, aku tadi hampir lupa, aku kan bawa kamera. Bagaimana kalau kita berfoto dulu sebagai kenang-kenangan?”(Mayumi). “Itu ide yang bagus!”(Hana). Hana dan yang lainnya lalu berfoto-foto. “Baik, kita harus lanjutkan perjalanan kita.”(Tora). “Hei...istirahat dulu kenapa? Aku sudah capek, dari tadi jalan terus.”(Saki). “Iya aku juga...”(Hana). “Tuh kan, sudah ku bilang, kau itu tidak mungkin bisa bertahan di sini...”(Uno). “Ahhh...berisik! Jangan ganggu orang istirahat!”(Saki). Hana mengeluarkan minuman dari tasnya. “Ini...aku tadi bawa agak banyak, minumlah.”(Hana). “Terima kasih!”(Saki). “Semuanya bisa ambil kok, aku sudah membawa sesuai jumlah orangnya...”(Hana). Mereka pun beristirahat di bawah pepohonan yang teduh. Namun terlihat ada sesuatu yang mengawasi gerak-gerik mereka dari balik rerimbunan semak-semak hutan.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar