Chapter 18
(Shocking Test)
Sena merasa seluruh benda yang dipasangnya menjadi berat. Kira mulai memberi penjelasan. “Ya, itu adalah Pengunci Beban. Benda itu adalah alat yang digunakan untuk melatih batas fisik seseorang.”(Kira). Sena mulai terlihat kesal. “Bukan itu yang aku tanyakan! Yang aku tanyakan kenapa benda ini tiba-tiba bisa jadi berat seperti ini? Rasanya seperti mengangkat berat badan sendiri di seluruh tubuh.”(Sena). “Memang itu maksud latihan ini. Pengunci beban itu, jika diaktifkan seperti yang kulakukan tadi, maka bebannya akan sama dengan berat tubuhmu. Jadi bisa dibilang, kau sekarang sedang mengangkat berat tubuhmu di keseluruhan benda itu.”(Kira). “Tapi, memangnya apa yang harus aku lakukan dalam kondisi seperti ini? Kau tentu tau, jangankan berdiri, bergerak saja sulit.”(Kira). “Kalau begitu, jadikan itu latihan pertamamu.”(Kira). “Latihan? Apa maksudmu?”(Sena). “Ya, latihan bergerak, lalu berdiri dan seterusnya.”(Kira). “Bagaimana bisa?! Ini berat tau!”(Sena). “Seingatku, kau yang bilang bahwa kau tak akan mengeluh. Aku tidak salah kan?”(Kira). “Eh...iya juga, tapi kalau caranya begini, mana bisa aku...”(Sena). “Jadi sudah menyerah, ya?”(Kira). “Enak saja! Kalau hanya beban segini, sama sekali tak ada artinya!”(Sena). “Baguslah kalau begitu. Kalau begitu aku akan pergi mencari bahan makanan, kau latihanlah yang serius.”(Kira). “Ya...ya...kau tak perlu mengingatkanku!”(Sena). “Oh ya, aku lupa memberitaumu, di daerah ini terkenal dengan hewan buasnya. Jadi aku sarankan agar kau secepatnya berdiri dan mencari tempat yang aman.”(Kira). Sena menjadi panik. “Apa katamu?! Kau sama sekali tidak bilang soal itu!”(Sena). “Hehehe...sampai jumpa...”(Kira). “Sial!! Tunggu dulu! Jangan tinggalkan aku!”(Sena).
Kira pun pergi meninggalkan Sena. Sementara Sena sama sekali tak bisa bergerak. “Sial! Bagaimana ini? Kalau apa yang dikatakannya benar, maka...”(Sena). Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara auman yang cukup keras. Sena pun mulai panik. “Waahhhh!! Ini gawat! Aku harus secepatnya pergi dari sini!”(Sena). Sena terus berusaha untuk berdiri. “Sial! Berat sekali! Kalau seperti ini aku bisa mati, bagaimana ini...”(Sena:Dalam Hati). Sena tiba-tiba teringat dengan kata-kata Kira sebelumnya. “Benar juga, aku ke sini bukan untuk mati, tapi aku ke sini untuk menjadi kuat. Kalau ini adalah latihanku, maka aku harus bisa...”(Sena:Dalam Hati). Perlahan-lahan Sena mampu berdiri tegak. “Ayo...! Sedikit lagi! Tinggal berjalan saja...”(Sena:Dalam Hati). Sena pun mampu bergerak dengan leluasa. “Ahahaha...Akhirnya aku bisa berdiri dan bergerak bebas...”(Sena:Dalam Hati). Sena nampak kegirangan, namun terdengar suara aneh dari semak-semak di belakang Sena. Sena pun semakin panik. “Gawat...Aku harus pergi dari sini...”(Sena:Dalam Hati). Tak lama kemudian, ternyata yang berada di balik semak-semak adalah Kira. “Selamat! Kau berhasil!”(Kira). Sena nampak bingung. “Eh...Kira, kau...”(Sena). “Sebenarnya tadi itu adalah suara yang aku buat. Aku sengaja meninggalkanmu, agar kau mampu berlatih dengan serius. Terlebih lagi, jika aku menghadapkanmu pada kondisi yang sulit seperti tadi, tentu kau akan menggunakan insting bertahan hidupmu untuk mampu bergerak melawan beban berat itu.”(Kira). “Begitu ya...Tapi aku benar-benar panik tau! Kalau saja itu bukan kau, aku pasti sudah mati!”(Sena). Kira pun tertawa. “Hehehehe...tenang saja, tak akan pernah ku biarkan temanku terluka. Terutama kau, jadi tak perlu khawatir...”(Kira). “Meski begitu, aku tetap saja panik tau!”(Sena). “Iya...ya...maaf...tapi lihat sisi baiknya, sekarang kau sudah mampu terbiasa dengan Pengunci Beban itu.”(Kira). “Itu memang benar...tapi...”(Sena). “Kalau begitu, mulai sekarang, kau akan melakukan seluruh aktifitasmu dengan mengenakan benda itu. Jadi, kau akan terbiasa dengan beban berat. ”(Kira). “Begitu ya, baiklah kalau begitu! Aku akan berlatih dengan beban ini!”(Sena). “Nah, itu baru semangat! Oh, ada hal yang aku lewatkan...”(Kira). “Memang ada apa?”(Sena). “Soal benda itu, semakin kau terbiasa dengan bebannya, maka dia akan semakin berat. Jadi, bisa dibilang, tak ada batasan dalam beban itu.”(Kira). Sena terkejut. “Heeehhh...!! Kau sejak awal memang sengaja, ya!”(Sena). “Begitulah...”(Kira). “Awas...kau...!! Pasti ini akan aku balas!! Lihat saja!!”(Sena). Kira hanya bisa tertawa melihat sikap Sena. “Hahahaha...”(Kira). Latihan yang penuh dengan tantangan tersembunyi masih terus berlanjut menuju tahap yang lebih tinggi.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar