Chapter 17
(Next Step)
Beberapa hari telah berlalu. Sena terus berlatih bersama Kira dengan sungguh-sungguh. Saat ini, Sena sedang bermeditasi di air terjun seperti biasanya. Kira mengamatinya dari pinggir sungai. “Perkembangannya memang mengejutkan. Aku yakin dia pasti akan mampu melampauiku cepat atau lambat.”(Kira:Dalam Hati). Sena pun perlahan membuka matanya. “Baik, aku rasa kau sudah mampu menguasainya dengan sempurna. Selanjutnya, hanya tinggal penyempurnaan dan pemantapannya saja.”(Kira). “Ya!”(Sena). Sena mendekati Kira. “Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apa aku sudah bisa berlatih tahap yang selanjutnya?”(Sena). “Tentu, aku baru mau mengatakan itu.”(Kira). “Lalu?”(Sena). “Ayo sekarang kita ke tempat lain. Akan aku ajarkan padamu tahap yang selanjutnya.”(Kira). “Siap!”(Sena). Mereka pun meninggalkan air terjun itu menuju ke tempat lain di dalam hutan. Mereka menyusuri lebatnya pepohonan dan semak-semak untuk mencapai tempat tujuan. “Oke! Ini dia tempatnya!”(Kira). “Ini...”(Sena). Kira dan Sena pun sampai di sebuah padang rumput yang agak luas di tengah hutan, dan ditengah padang rumput itu, terlihat sebuah pohon tua yang sangat besar. “Hebat! Besar sekali pohonnya! Padang rumputnya juga luas.”(Sena). “Di sinilah tempat latihanmu berikutnya. Mulai sekarang, kau akan mendapat materi baru, jadi perhatikan baik-baik.”(Kira). “Tenang saja! Aku pasti bisa!”(Sena).
Mereka mendekat ke pohon besar itu. Kira mulai duduk di salah satu akar pohon itu yang muncul ke permukaan tanah, sedangkan Sena duduk di depannya. “Jadi, apa materi kali ini?”(Sena). “Sebelumnya, kau kan sudah mampu merasakan energi alam, namun bukan berarti kau sudah mampu untuk menggunakannya.”(Kira). “Maksudnya?”(Sena). Pada tahap ini, kau akan berlatih agar tubuhmu mampu menyeimbangkan dan menggunakan energi itu. Termasuk di sini adalah, untuk membangkitkan energi terpendam dalam dirimu dengan menggunakan bantuan energi alam yang baru kau pelajari itu.”(Kira). “Begitu ya, lalu bagaimana caranya? Apa yang harus aku latih dalam tahap ini?”(Sena). “Jika pada tahan yang sebelumnya kau mempelajari untuk merasakan dan beradaptasi dengan energi dari luar, maka kali ini kau akan belajar untuk melatih aspek penting di dalam dirimu.”(Kira). “Aspek? Penting? Apa itu?”(Sena). “Secara harfiah, aspek penting dalam diri manusia dibedakan jadi tiga macam, yaitu fisik, mental, dan pikiran. Manusia mampu beraktifitas karena adanya keseimbangan dari ketiga aspek ini.”(Kira). “Begitu ya...”(Sena). “Jika salah satu dari aspek ini mengalami perubahan, maka akan mempengaruhi keseluruhan dari diri manusia itu sendiri. Baik itu disadari, atau tidak disadari.”(Kira). “Owww...Jadi artinya, aku akan berlatih untuk menyelaraskan ketiganya, begitu?”(Sena). “Singkatnya begitu, tapi yang lebih tepat adalah mencari dan mengembangkan potensi istimewa dari ketiga aspek itu, hingga terciptalah inti dari kekuatanmu yang telah terpendam selama ini.”(Kira). “Keren! Baik, pertama-tama apa yang akan kulakukan?”(Sena).
Kira mulai berdiri. “Kita akan mulai dari aspek paling sederhana, namun paling berat pengerjaannya, dan membutuhkan banyak tenaga, yaitu fisik.”(Kira). “Fisik, ya? Kalau itu sih bukan kendala besar buatku! Selama ini aku kan rajin berolahraga, walaupun tidak terlalu berat-berat juga.”(Sena). “Kalau begitu, kali ini kita akan coba dengan sedikit lebih berat.”(Kira). “...”(Sena). Kira mengeluarkan sesuatu, yang terlihat seperti pelindung tangan, kaki dan kepala. Sena terlihat bingung. “Benda apa itu?”(Sena). “Coba gunakan saja.”(Kira). Kira memberikannya pada Sena, lalu Sena langsung mengenakan semua itu di badannya. “Sudah, lalu apa selanjutnya?”(Sena). “Bersiap-siaplah...”(Kira). “Eh?”(Sena). Kira mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke arah Sena. Seketika, Sena merasa semua benda yang dipasangnya tadi menjadi sangat berat hingga Sena terjatuh. “Waaahhh!!”(Sena). “Bagaimana rasanya, Sena?”(Kira). “I...i...ini...Kenapa jadi berat begini? Apa yang kau lakukan barusan?”(Sena). “Yang kuberikan padamu tadi adalah Pengunci Beban.”(Kira). “Pe...pengunci...beban...?”(Sena). Dengan memikul beban impian itu, dia terus berusaha sekuat tenaga.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar