Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 16 )


Chapter 16

(Nature Power)

Fajar mulai menyingsing dari balik pepohonan gunung. Sena yang tertidur pulas di samping api unggun perlahan terbangun. “Mmmm...”(Sena). Terlihat Kira sedang duduk di pinggir sungai. “Kau sudah bangun rupanya.”(Kira). “Hwwaaammm...Iya, kau sendiri juga baru bangun?”(Sena). “Tidak, aku sudah bangun sejak tadi.”(Kira). “Owww...”(Sena). Sena pun pergi ke sungai untuk mencuci muka. “Haaahhh...Segar!”(Sena). “Saat kau bisa menyatu dengan alam, maka kau akan mampu merasakan apa yang ada di sekitarmu, seperti yang kau rasakan sekarang.”(Kira). “Benar juga, tubuhku sepertinya mulai mampu merasakan apa yang ada sekitarku dengan baik.”(Sena). “Sebagai permulaan, bagaimana kalau kita olahraga terlebih dulu.”(Kira). “Siap!”(Sena). Mereka mulai berolahraga dengan lari pagi menyusuri pinggir sungai dari hulu hingga hilir.
Setelah berlari cukup lama, mereka akhirnya sampai di hilir sungai yang agak jauh. Sena terlihat kelelahan. “Hah...hah...hah...Istirahat dulu...”(Sena). Kira yang nampak belum lelah, langsung melakukan push up sebanyak mungkin. “Hei...Kau itu apa tidak lelah? Kita kan sudah berlari cukup jauh.”(Sena). “Tidak, justru ini bisa dibilang sebagai latihan fisik yang keras.”(Kira). “Begitu ya...Kalau seperti itu, aku juga!”(Sena). Sena pun mengikuti Kira. Setelah cukup lama, mereka akhirnya selesai. “Baik, sudah cukup! Sekarang bagaimana kalau kita mencari bahan untuk sarapan?”(Kira). “Ide bagus! Aku juga sudah mulai lapar.”(Sena). “Oh ya, ada yang ingin aku tunjukkan padamu, ikuti aku.”(Kira). “Mmmm...”(Sena). Kira pun mengajak Sena ke dekat sungai. “Di sini kelihatannya banyak.”(Kira). “Ngomong-ngomong, apa yang mau kau tunjukkan? Aku jadi penasaran?”(Sena). “Tentu aku sudah bilang sebelumnya. Kita di sini bukan hanya sekedar berlatih, tapi juga belajar bertahan hidup. Nah, kalau kau sudah mampu mengendalikan energi itu, maka kau bisa menggunakannya sebagai alat bantu untuk bertahan hidup.”(Kira). “Seperti itu ya...”(Sena). “Sekarang perhatikan daun ini.”(Kira). “Iya!”(Sena). Sena meperhatikan daun yang dipegang Kira dengan seksama. Tiba-tiba muncul asap dari daun itu hingga akhirnya daun itu terbakar. “Waahh! Hebat!”(Sena). “Tadi aku memfokuskan elemen api dari panas di sekitar dan di dalam tubuhku pada daun ini, sehingga daun ini bisa terbakar.”(Kira). Sena terlihat kagum “Keren!”(Sena). “Nah, kalau mau mencari ikan, biar kutunjukkan cara mudahnya padamu.”(Kira).
Kira meletakkan tangannya di permukaan air sungai. Terlihat ada segerombolan ikan yang sedang berenang. Dengan sigap, Kira seolah olah menarik air itu beserta ikan-ikan itu dari sungai. “!!!”(Sena). Sena tampak terkejut. “Nah, sekarang kita sudah bisa sarapan. Sebentar, biar aku siapkan dulu apinya.”(Kira). Kira kembali membakar tumpukkan ranting dan daun kering seperti yang dia lakukan sebelumnya untuk membuat api, lalu membakar ikan yang didapatnya tadi. “Aku benar-benar takjub. Kau mampu melakukan semua itu dengan mudah, seperti kau seolah-olah bisa mengendalikan elemen-elemen itu.”(Sena). “Sebenarnya aku hanya menarik energi yang ada di sekitarku dan mengubahnya dengan energi dalam diriku sendiri, lalu pada akhirnya aku menggunakannya, seperti apa yang barusan kau lihat.”(Kira). “Begitu ya, aku jadi tidak sabar untuk bisa melakukannya. Aku benar-benar bersemangat! Seakan-akan aku ingin latihan terus tanpa berhenti hingga aku bisa sepertimu!”(Sena). “Tidak begitu juga, kan aku sudah bilang, kemampuan seseorang itu berbeda-beda satu sama lain, jadi mungkin saja kau nantinya mampu melampauiku dengan semangatmu itu.”(Kira). “Ummm! Aku pasti akan berusaha keras sampai bisa!”(Sena). “Ya...Kalau memang begitu, sepertinya aku harus mulai menekankan latihannya, agar aku tau seberapa besar semangatmu.”(Kira). “Tenang Saja...Aku pasti akan berhasil melewati setiap tahap dari latihan ini, kau bersiap-siaplah untuk terkejut, hehehehe...”(Sena). “Baik...aku tidak sabar untuk melihat itu!”(Kira). Mereka pun tertawa bersama. “Sena...Kau benar-benar mengingatkanku pada diriku yang dulu...Dulu sekali, sebelum aku jadi seperti sekarang ini...”(Kira:Dalam Hati). Setelah agak lama, mereka pun selesai sarapan dengan memakan ikan tadi. “Baik, aku sudah selesai!”(Sena). “Karena kita sudah sarapan, ayo kita mulai latihannya!”(Kira). “Ummm...Mohon bimbingannya, ya!”(Sena). “Ya! Aku pasti akan melatihmu dengan serius!”(Kira). Mereka pun pergi dengan harapan baru di balik cahaya pagi.




To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks