Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 15 )


Chapter 15

(Training and Bonds)

Di air terjun, Sena sedang melakukan latihannya. Terlihat Sena sedang duduk bersila di atas batu agak besar yang terletak tepat di bawah derasnya aliran air terjun. “...”(Sena). Kira terlihat mengawasi Sena dari pinggir sungai. “Sejauh ini, dia bisa berkonsentrasi dengan baik.”(Kira:Dalam Hati). Kilasan sebelumnya, Kira mengajarkan Sena tentang latihan pertamanya. “Kau harus melakukan meditasi di batu itu. Usahakan fokus dan coba rasakan energi dari elemen-elemen yang ada di sekitarmu.”(Kira). “Mmmm...baiklah akan aku coba.”(Sena). Kembali ke waktu sekarang, Sena terlihat sangat serius. “Fokus...fokus...Ayo...Aku harus bisa...”(Sena:Dalam Hati). Di dalam pikirannya, Sena seolah-olah merasakan sesuatu. “Ini...Ya! Aku rasa memang ini! Aku harus lebih fokus lagi!”(Sena). Kira yang sedari tadi mengamati, mulai melihat perubahan pada Sena. “Kelihatanya berjalan dengan baik. Tidak kusangka, dia mampu beradaptasi secepat itu. Aku rasa dia memang punya bakat yang istimewa dalam dirinya.”(Kira:Dalam Hati).
Sena mulai merasakan energi yang masih agak samar. “...”(Sena). Kira mulai memberi instruksi ada Sena. “Sena! Coba sekarang buka matamu.”(Kira). Sena pun perlahan membuka matanya. “Bagaimana? Apa yang kau rasakan?”(Kira). “Rasanya sangat tenang, namun seperti ada yang mengalir di sekitarku. Apa ini energi elemen itu?”(Sena). “Itu benar, tapi pada tahap ini, kau masih baru mendapatkan konsepnya saja. Tapi jika kau melatihnya secara terus-menerus, energi itu akan menjadi pondasi dari kekuatanmu.”(Kira). “Mmmm...”(Sena). “Kalau begitu, kita akhiri dulu latihanya. Hari sudah mulai gelap, sebaiknya, kita segera mencari bahan makanan dan tempat untuk istirahat.”(Kira). “Baik! Kalau begitu aku akan coba memancing. Siapa tau di sungai ini ada ikannya.”(Sena). “Ide bagus! Kalau begitu, akan ku coba cari bahan makanan lain. Siapa tau ada buah atau tanaman yang bisa dimakan.”(Kira).
Sena pun mengambil ranting berukuran sedang dan mencari akar yang agak panjang dan kecil untuk memancing. “Sudah siap, tinggal cari umpan saja. Tapi kalau cuma memancing, aku rasa kurang menjanjikan. Kalau begitu, sekalian saja aku pasang jebakan ikan di hilir sungai, supaya dapat banyak.”(Sena). Kira sendiri pergi ke dalam hutan untuk mencari tanaman yang bisa dimakan. Sementara itu, di apartement Sena, terlihat Hana datang membawa sesuatu. “Sena! Sena! Apa kau ada?”(Hana). Tak lama kemudian, Tora datang sehabis berbelanja bahan makanan di minimarket. “Oh, Hana! Kau mencari Sena, ya?”(Tora). “Iya, apa kau tau di mana dia?”(Hana). “Tidak, tapi dia tadi terlihat pergi dari pagi-pagi sekali.”(Tora). “Begitu...Tapi tidak biasanya dia pergi sepagi itu. Apa ada yang terjadi, ya?”(Hana). “Entahlah, tapi kalau aku tidak salah dengar, dia tadi sepertinya pergi bersama seseorang. Kalau aku tidak salah tebak, kelihatanya itu seperti suara Kak Kira.”(Tora). “Mmmm...tapi aku masih penasaran. Apa ya yang mereka kerjakan pagi-pagi begitu?”(Hana). “Ya, aku pun juga tidak paham. Tapi, kalau Sena memang bersama Kak Kira, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan.”(Tora). “Benar juga...”(Hana). “Oh ya, ngomong-ngomong, tidak biasanya kau kemari, dan apa yang kau bawa itu?”(Tora). “Oh ini, ya sebenarnya tadi sore masih ada sisa roti manis di toko, jadi daripada terbuang sia-sia, lebih baik aku berikan ke Sena saja, tapi dia justru tidak ada.”(Hana). “Begitu...Ya mungkin saja, Sena menginap atau semacamnya. Kau tau kan, Sena tak mengkin pergi sampai semalam ini. Jadi kelihatannya dia tidak akan pulang malam ini.”(Tora). “Mmmm...”(Hana). “Tapi kalau aku perhatikan, kau memang terlihat sangat perhatian dengannya ya, Hana.”(Tora). “Eh...I...itu...tidak juga, aku hanya ingin memberikan ini saja kok...”(Hana). “Ow...ya memang Sena itu agak sulit dipahami. Aku yang sahabatnya saja belum tentu bisa memahami dia.”(Tora). Hana terlihat bingung. “...”(Hana). “Tapi aku mengerti, kau yang sudah menjadi teman dekatnya dari kecil, bahkan sebelum aku, mungkin kau bisa memahaminya walau cuma sedikit. Aku benarkan?”(Tora). “Ya...Bisa dibilang begitu. Sena itu, walaupun dia masih punya kakak, tapi aku bisa merasakannya...dia selalu merasa sendirian. Seperti apapun ekspresi yang dia tunjukkan untuk menutupinya, jujur aku masih tetap merasakannya walau cuma sedikit. Mungkin seperti yang kau katakan.”(Hana). “Haaahhh...Kalau begitu, aku rasa kau memang satu-satunya orang yang cocok untuknya.”(Tora). Hana sontak kaget. “Ke...kenapa kau bilang begitu?!”(Hana). “Ya, hanya spontan saja, tapi kalau dari apa yang kulihat. Jelas Sena sangat membutuhkan kehadiran seseorang sepertimu, Hana.”(Hana). Hana menjadi malu. “Jadi kau berpikir begitu, ya...”(Hana). “Ya, selalu...”(Tora).
Hana pun akhirnya pergi dan Tora hanya tersenyum. “Hehehe...sudah ku duga, kalian itu memang pasangan yang serasi...”(Tora:Dalam Hati). Malam yang penuh bintang. Kepergiannya mungkin mendadak, namun perasaan mereka tetap terhubung satu sama lain, menembus dingin malam dan lebatnya hutan pegunungan.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks