Chapter 6
(Interesting Life)
Sena sedang berusaha mengatakan sesuatu pada Hana. “Apa yang ingin kau katakan, Sena?”(Hana). “Sebenarnya, yang menyerangku sewaktu di atap sekolah...dia adalah Ryuto.”(Sena). Hana sontak terkejut mendengarnya. “Jadi, dia benar-benar menantangmu dan akhirnya menyerangmu sampai seperti itu?!”(Hana). “Ya...”(Sena). “Lalu apa yang aku, Saki, dan Kak Yuki rasakan waktu itu, sebenarnya apa? Rasanya seperti tekanan yang sangat berat.”(Hana). “Itu adalah Ryuto.”(Sena). “Tapi bagaimana bisa? Kenapa sampai kau seperti itu?”(Hana). “Sebenarnya, dia adalah seorang Hyper. Apa yang kalian rasakan waktu itu adalah kekuatan yang dikeluarkannya.”(Sena). “Hy...Hyper?! Tu...tu...tunggu dulu, aku sama sekali tidak mengerti...”(Hana). “Ceritanya panjang, tapi yang jelas, itulah yang sebenarnya terjadi.”(Sena). “Dan kejadian sewaktu kau pingsan di pemakaman itu...”(Hana). “Kau tentu mendengarnya, kan? Pertengkaranku dengan kakakku waktu itu?”(Sena). “Eh...i...itu memang benar, tapi apa kaitannya?”(Hana). “Aku tidak tahan mendengar kata-kata kakak, lalu aku lari hingga sampai ke pemakaman itu.”(Sena). “Lalu kenapa kami bisa menemukanmu di depan dua buah nisan di sana? Apa kedua nisan itu...”(Hana). “Iya...kedua nisan itu adalah milik ayah dan ibuku.”(Sena). Hana langusng terlihat murung. “Maaf...aku jadi...”(Hana). “Tak masalah, lagipula aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu.”(Sena). Hana menatap wajah Sena yang terlihat masih memikirkan sesuatu. “Begitu ya...”(Hana). Sena hanya tersenyum kecil. “Maaf sudah membuatmu cemas. Gara-gara aku, kalian semua jadi mengkhawatirkan ku.”(Sena). “Tidak kok, kami hanya tak ingin terjadi sesuatu denganmu. Oh ya, sewaktu kau menghilang tadi, kakakmu sangat cemas sampai ia memanggilku untuk menemaninya mencarimu.”(Hana). “...”(Sena). “Itu tandanya kakakmu tak marah lagi denganmu, bagaimana pun, dia tak akan mungkin membiarkan adik yang disayanginya dalam bahaya, benar kan?”(Hana). “Iya...”(Sena).
Hana pun bergegas untuk pulang. Sena mengantarnya sampai pinggir jalan. “Maaf ya, Sena, tapi ini sudah larut, aku harus segera pulang.”(Hana). “Iya...tak apa-apa, terima kasih sudah mau menemaniku, dan sekali lagi aku minta maaf, karena sudah merepotkanmu.”(Sena). “Bukan apa-apa, tapi kau sudah membaik, kan? Aku tak bisa tenang jika meninggalkanmu sendiri dalam kondisi yang sekarang.”(Hana). “Tidak apa-apa, aku sudah sehat seperti biasa, jadi kau tak perlu khawatir.”(Sena). “Baiklah, tapi sebelum itu...”(Hana). Hana dengan spontan mencium pipi Sena. Sena hanya bisa diam karena kaget. “Ha...Hana...”(Sena). Hana yangmelihat reaksi Sena langsung tersenyum dan membisikkan sesuatu. “Bersemangatlah...Sena...”(Hana). Hana pun berlari sampai ke seberang jalan. “Sampai jumpa besok, Sena! Jangan lupa untuk segera istirahat, ya!”(Hana). Sena yang masih setengah bingung, hanya bisa melambaikan tangan pelan. “Ya...”(Sena). Hana pun pulang dengan senyum diwajahnya. Tak lama setelah itu Tora datang menghampiri Sena.“Yo Sena! Aku tadi melihat Hana dan...Tunggu dulu, apa jangan-jangan dia, lalu kalian...”(Sena). Sena pun langsung pergi dan masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apapun. Tora yang penasaran tetap mengikuti Sena sampai depan pintu kamar Sena. “Oi! Jawab dulu, Sena. Aku juga ingin tau...”(Tora). “Sudah...besok saja kuberitau.”(Sena). “Tapi aku sangat penasaran, Sena. Kau tentu tau, jika aku terlalu memikirkan sesuatu, aku tak akan bisa tidur.”(Tora). “Minum saja obat tidur.”(Sena). “Ayolah...ayolah...sedikit saja.”(Tora). “Aku sedang tak ingin diganggu sekarang.”(Sena). “Uhhhh...baiklah, tapi jangan lupa, besok beritau aku, ya...”(Tora). “Iya...sudah cepat tidur!”(Sena). “Asik! Aku benar-benar tidak sabar menunggu besok, hihihi...”(Tora:Dalam Hati). Sementara itu, Sena sedang berbaring di tempat tidur sambil membayangkan kejadian barusan. “Yang tadi itu. Sebenarnya, apa maksudnya, ya? Aku jadi penasaran. Ahhhh, jika seperti ini terus, bisa-bisa aku yang tak akan bisa tidur!”(Sena:Dalam Hati). Ditempat lain, Seseorang yang misterius sedang berdiri di atap sebuah gedung. Tak lama berselang, ada seseorang yang datang. “Bagaimana?”(Unknow 1). “Seperti yang kau katakan.”(Unknow 2). “Begitu, terima kasih. Mulai sekarang, biar rekanmu yang lain yang akan meneruskan sisanya. Kau bisa mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya.”(Unknow 1). “Baik, kalau begitu aku pergi dulu...”(Unknow 2). Orang yang datang tersebut akhirnya pergi. “Sudah semakin dekat ya...”(Unknow 1). Orang misterius itu akhirnya menghilang bersamaan dengan kabut malam yang dingin.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar