Chapter 7
(New Spirit)
Keesokkan harinya, Sena datang ke sekolah seperti biasa. Dengan wajah yang masih terlihat mengantuk, Sena perlahan berjalan menuju kelasnya. “Hwaaammm..., semalaman aku kepikiran kejadian itu sampai aku tak bisa tidur.”(Sena:Dalam Hati). Tak lama berselang, Hana datang. “Pagi, Sena.”(Hana). “Pa...pagi...”(Sena). “Uhm...tidak biasanya kau datang sendiri. Memang Tora ke mana?”(Hana). “Itu...dia bilang dia tidak enak badan, jadi dia tidak masuk hari ini. Dia sudah menitipkan suratnya padaku.”(Sena). “Oh...aku harap dia cepat sembuh. Ngomong-ngomong kenapa dia sampai sakit begitu? Apa kau tau, Sena.?”(Hana). “Sewaktu aku tanya tadi sih, dia bilang dia terlalu banyak meminum obat tidur, jadi dia masih merasa pusing.”(Sena). “Begitu ya, lalu bagaimana dengan dirimu? Apa sudah merasa baik?”(Hana). “Ah...itu, sudah tidak kenapa-kenapa kok.”(Sena). “Syukurlah, kalau begitu.”(Hana). Sejenak Sena dan Hana terdiam, lalu teringat akan kejadian semalam dan menjadi malu-malu.
Mereka sampai di depan kelas. Saat Sena membuka pintu, terlihat Ryuto yang berdiri di depan pintu. “...”(Sena). Sena dengan ekspresi datar sama sekali tidak bergeming. “Sena...”(Hana). Tanpa berkata apa-apa, Ryuto keluar dari kelas dan entah pergi ke mana, sedangkan Sena hanya terdiam. “Sena? Sena...? Sena?!”(Hana). “Ah...iya, maaf aku tadi tidak mendengarmu. Maaf ya, Hana.”(Sena). “Kau tidak apa-apakan?”(Hana). “Tidak...tidak ada apa-apa.”(Sena). Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Namun Sena masih terpikir dengan kejadian kemarin. “Apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya apa maksudnya kemarin itu?”(Sena:Dalam Hati). Sena memperhatikan Ryuto sambil terus memikirkan hal itu. “Tapi, jika dipikir kembali, dia pergi sesaat sebelum kakak dan yang lainnya datang. Apa itu artinya, sebelum pergi, dia sempat merasakan kedatangan mereka? Lalu, dia pergi supaya dia tidak diketaui mereka? Tapi, kenapa? Kalau sejak awal dia memang berniat untuk menyerangku, dengan kekuatan dan senjata seperti itu, seharusnya dia bisa melakukannya dengan cepat dan tak terduga sebelumnya. Bahkan, mungkin dia bisa melakukan hal itu, sebelum mereka datang. Tapi kenapa? Kenapa dia tak melakukannya dan memilih pergi saat dia tau mereka datang?”(Sena:Dalam Hati).
Bel istirahat akhirnya berbunyi, Sena berniat untuk pergi ke kantin sekolah. Hana yang melihat Sena akan pergi berusaha mengajak Sena. “Sena, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku tadi membawa bekal lebih.”(Hana). “Umm...boleh juga...”(Sena). Saat mereka akan pergi, Sena lewat di samping bangku Ryuto. Ryuto dengan memalingkan wajahnya berkata sesuatu pada Sena. “Jangan salah paham. Yang kemarin itu hanya salam perkenalan saja. Aku harap kau tidak tertekan...Sena”(Ryuto). Sena pun berhenti dan terdiam. Hana mulai memperhatikan Sena. “Sudah jangan dengarkan dia, Sena. Ayo, pergi...”(Hana). Sena tiba-tiba tersenyum. “Hmm....”(Sena). Ryuto melirik Sena. “Kenapa? Apa ada yang lucu?”(Ryuto). “Se..Sena?”(Hana). “Tidak ada yang lucu, aku justru senang.”(Sena). “Senang? Memang apa yang membuatmu senang?”(Ryuto). “Aku senang, karena kau mengatakan hal yang menarik tadi.”(Sena). “...”(Hana). “Menarik, ya. Aku rasa, aku terlalu menganggap remeh dirimu.”(Ryuto). “Kau mungkin punya semua itu. Tapi ada satu hal yang harus kau catat baik-baik dalam otakmu.”(Sena). “Benarkah? Lalu apa itu?”(Ryuto). Ingatlah, bahwa suatu hari nanti, aku pasti akan melampaui kekuatanmu itu, ingat itu!”(Sena). Ryuto yang mendengar itu langsung tersenyum. “Hmmm...dasar kekanakan”(Ryuto). Hana yang melihat mereka berdua hanya bisa bingung. “Jangan berpikir terlalu tinggi. Kau itu bahkan tak akan pernah jadi sepertiku. Jadi jangan berkhayal.”(Ryuto). “Dasar pikun! Bukankah yang kukatakan tadi adalah melampauimu, bukan menjadi sepertimu.”(Sena). “Lakukan sesukamu jika kau bisa.”(Ryuto). “Tunggulah, dan kita pasti akan berhadapan secepatnya, Ryuto.”(Sena). Sena pun akhirnya pergi bersama Hana. “Baiklah kalau kau sudah paham, aku pergi dulu...sampai jumpa nanti, Ryuto. Ayo, Hana!”(Sena). “I...iya...”(Hana). Sena dan Hana pun berjalan di koridor kelas. Sepanjang jalan Hana memperhatikan Sena. “Umm...ada apa?”(Sena). “Ti...tidak ada apa-apa. Aku hanya senang melihat ekspresimu yang ceria seperti biasanya.”(Hana). “Ya...begitulah...”(Sena). Di dalam kelas. Ryuto masih teringat dengan kata-kata Sena tadi. “Ini akan semakin jadi menarik...”(Ryuto:Dalam Hati). Genderang persaingan antara mereka berdua telah bergemuruh.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar