Pages

Manga

Sabtu, 05 Juli 2014

Wrong Life (Arc 1 Chapter 2 )

Chapter 2

(Friendship)

 Pagi yang seperti biasanya, Sena tiba di sekolah agak awal, sedangkan Hana sudah terlebih dulu sampai. “Oh, pagi Hana, aku kira belum ada orang.”(Sena). “Pagi juga Sena, aku memang datang lebih awal untuk menyelesaikan tugas kemarin, kalau kau sendiri kenapa? Tidak biasanya kau berangkat lebih awal?”(Hana). “Itu...catatanku kemarin tertinggal di loker dan laporanku masih kurang sedikit.”(Sena). “Lalu, bagaimana dengan Seichiro? Bukannya kalian biasanya berangkat bersama?.”(Hana). “Oh itu...ya seperti biasa, dia kalau sudah tidur sulit untuk dibangunkan.”(Sena). “Tapi, dia kan temanmu, seharusnya kau harus lebih perhatian sama dia.”(Hana). “Ah, tidak masalah...dia sudah biasa seperti itu.”(Sena). Tak lama kemudian, teman Hana yang bernama Katagi Sasaki menyapa mereka. “Pagi, Hana...Miya!”(Saki). “Pagi...”(Hana). “Bukankah sudahku bilang, jangan memanggilku dengan julukan itu...”(Sena). “Tapi aku suka dengan panggilan itu, kedengaran lucu.”(Saki). “Hah, ya terserah sajalah.”(Sena). “Oh iya, Hana, aku ingin pinjam catatanmu yang kemarin, catatanku masih kurang.”(Saki). “Ini masih aku kerjakan, lebih baik kau ikut mencatat saja denganku, ini aku juga hampir selesai.”(Hana). “Baiklah, eh...Miya, kau sedang apa?”(Saki). “Mengerjakan laporan...kenapa?”(Sena). “Hmb...aku kan cuma tanya”(Saki). “Oh, aku kira ada apa.”(Sena). “Huuhh...dasar cuek...weekk”(Saki). “Kau juga cerewet...weekk.”(Sena). “Kalian ini, katanya mau mengerjakan tugas?(Hana). “Oh, iya...gara-gara Miya yang jelek aku jadi lupa.”(Saki). “Iya...ya, ratu cerewet.”(Sena).
Pelajaran dimulai, guru juga sudah masuk, namun ada satu murid yang tidak tampak sejak pagi, dia adalah Ryuto. “Takahashi...tidak datang, ya?”(Hana). “Siapa peduli...aku justru senang dia tidak datang!”(Sena). “Jangan bilang begitu.”(Hana). “Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari orang seperti dia.”(Sena). “Tadi pagi, Takahashi telah memberikan surat izin kepada kepala sekolah, dan disurat tertulis, bahwa dia meminta izin selama seminggu untuk mengunjungi keluarganya di luar kota, jadi semuanya tidak perlu bingung, dan tetap belajar seperti biasa, mengerti?”(Yunoaki Sensei). “Mengerti Sensei!”(Semua Murid). “Baiklah, sekarang buka halaman 11...”(Yunoaki Sensei).
Sewaktu jam istirahat pelajaran, Sena pergi bersama Tora untuk membeli makanan, karena Sena lupa untuk membuat bekal tadi pagi. “Kau jahat! Kenapa kau tidak membangunkanku?”(Tora). “Aku sudah mengetuk pintu dan memanggilmu berkali-kali, tapi kau tidak bangun, ya aku berangkat sendiri saja.”(Sena). “Tapi aku jadi terlambat tau.”(Tora). “Bukannya dulu kau sudah terbiasa begitu?”(Tora). “Itukan dulu.”(Tora). “Haaahhh...padahal tadinya aku berpikir untuk pergi sendiri saja, pada akhirnya kau tetap ikut.”(Sena). “Ini sebagai balasan, kau harus mentraktirku hari ini.”(Tora). “Iya...ya...”(Sena). Saat mereka lewat di salah satu sudut sekolah yang agak sepi, terlihat Hana dan temannya Junshou Mayumi sedang diganggu oleh sekelompok murid laki-laki. “Hehe...mau ke mana? Kenapa tidak berhenti sebentar dan ngobrol-ngobrol dulu, hehe...”(Murid 1). “Ma...maaf tapi kami harus segera pergi sekarang.”(Hana). “Ayolah...sebentar saja...hehehe”(Murid 1). Murid tersebut berusaha memegang tangan Mayumi. “Lepaskan!”(Mayumi). “Oh...ternyata tak bisa dengan cara halus, ya? Kak, bagaimana kalau kita bawa paksa saja mereka?” (Murid 2). “Ide bagus, lagipula ada tempat yang ingin aku datangi bersama wanita-wanita cantik seperti mereka, hehehe...”(Murid 1). “Hana...aku takut...”(Mayumi). “...”(Hana). Sena, tak sengaja melihatnya. “Tora, bisakah kau pergi duluan dan tunggu aku di sana?”(Sena). “Boleh juga, tapi...”(Tora). “Ya aku tau...Roti Yakisoba plus Milkshake rasa Cokelat Vanilla...bagaimana?”(Sena). “Hmm...ok! Tapi jangan terlalu kasar-kasar, ya, Romeo...”(Tora). “Huh...bukan masalah buatku.”(Sena). Sena pun menghampiri mereka. “Maaf mengganggu, tapi aku pikir murid-murid di sekolah ini punya perilaku yang cukup pantas sebagai manusia, benarkan?”(Sena). “Se...Sena...”(Hana). “...??”(Mayumi). “Ada masalah apa kacamata?! Apa kau tersesat?! Hahaha!!”(Murid 1). “Tidak juga...hanya sedang mampir saja.”(Sena). “Aku rasa dia belum tau siapa kita, kak?”(Murid 3). “Benar juga, kak! Kenapa tidak kita layani saja?! Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh orang Culun seperti dia?!”(Murid 2). “Culun ya, terserahlah...kalian boleh maju satu-satu atau bersamaan sesuka kalian.”(Sena). “Begitu, ku harap kau tidak akan menyesal telah meremehkan kami.”(Murid 1). “Tidak juga, itu kenyataan kok...”(Sena). “Kurang ajar! Ayo, kak kita habisi saja dia!”(Murid 3). Mereka pun menyerbu Sena secara bersamaan, namun Sena mampu menghajar mereka satu per satu hingga babak belur. “Ku...kurang ajar!!”(Murid 3). “Lihat saja! Lain kali keberuntunganmu pasti akan habis!! Tunggu saja!!”(Murid 1).
Mereka pun lari meninggalkan Sena. “Kalian tidak apa-apakan?”(Sena). “Tidak apa-apa kok.”(Hana). “Tapi jujur, aku tidak menyangka bahwa seorang berkacamata sepertimu jago berkelahi seperti juga.”(Mayumi). “Begitulah...Sena memang suka berkelahi sejak kecil. Yah, memang sebenarnya aku sedikit tidak suka dengan yang satu itu.”(Hana). “Tapi aku paling tidak suka dengan orang yang seenaknya melakukan hal seperti ini pada orang lain. Memangnya mereka pikir hidup orang lain itu apa?”(Sena). Hana sejenak teringat dengan Sena sewaktu kecil. “Ada apa Hana?”(Mayumi). “Eh...Itu...terima kasih ya, Sena.”(Hana). “Mmmm...Sama-sama...Ngomong mereka itu anak kelas 2 dan 3 kan?”(Sena). “Kelihatannya begitu.”(Hana). “Oh ya, kenapa kau bisa tau kalau kami di sini?”(Mayumi). “Itu...aku hanya kebetulan lewat.”(Sena). “Oh begitu...”(Mayumi). “Oh iya, ini pertama kalinya kalian bertemukan, kenalkan Sena, namanya Junshou Mayumi. Mayumi, kenalkan ini Sena.”(Hana). “Salam kenal.”(Sena). “Senang beretemu denganmu, dan terima kasih telah menolongku.”(Mayumi). “Mayumi ini orangnya pemalu, jadi...”(Hana). “Hana...”(Mayumi). “Hehehehe...aku lupa, kami sedang ada urusan. Kalau begitu, kita lanjutkan lain kali, ya.”(Hana). “Ya, hati-hati...”(Sena). “Um...!”(Hana). “Kalian pasti akrab sekali ya?”(Mayumi). “Ya...seperti itulah.”(Hana).
Sena pun pergi menyusul Tora. “Yo Sena, bagaimana?”(Tora). “Ya, begitulah, seperti biasa.”(Sena). “Jujur aku jadi iri, kau selalu mendapat kesempatan yang manis, sedangkan aku sama sekali tak ada peningkatan.”(Tora). “Hei...hei, tak perlu sampai segitunya tau. Lagipula ini cuma kebetulan.”(Sena). “Tapi tetap saja aku iri...”(Tora). “Sudah...sudah, cepat atau lambat kau pasti juga akan merasakannya.”(Sena). Tora memegang tangan Sena. “Berjanjilah, Sena! Kau akan membantuku jika aku sudah menemukan seseorang seperti Hana, ya.”(Tora). “Iya...ya, kau adalah sahabatku, tak perlu khawatir.”(Sena). “Terima kasih, Sena!”(Tora). Tora pun memeluk Sena dengan senangnya. “Hei! Lepaskan, aku tidak bisa bergerak tau!”(Sena). Ditempat lain, segerombolan murid yang mengganggu Hana dan Mayumi tadi bertemu dengan seseorang. “Begitu, ternyata di luar perkiraanku sebelumnya.”(Unknow). “Jadi, mana bayaran kami?”(Murid 2). “Oh iya, aku lupa. Baiklah, bersiap-siaplah menerima hadiah kalian...”(Unknow). Secepat kilat, segerombolan murid itu terkapar penuh luka. “Itu, bayaran kalian. Selamat menikmati...”(Unknow). Dia pun pergi meninggalkan mereka menuju suatu tempat. Aura kelam perlahan mulai mendekati Sena.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks