Pages

Manga

Sabtu, 05 Juli 2014

Wrong Life (Arc 1 Chapter 1) Arc 1 : Starting Saga


Chapter 1

(Morning Shine)

Matahari mulai beranjak naik dari timur. Miyazaki Sena yang tertidur pulas, perlahan-lahan bangun dan menyiapkan diri. “Gawat!! Aku terlambat!!!”(Sena). Dia segera bergegas pergi sambil memakan roti sarapannya karena dia hampir terlambat untuk upacara penerimaan murid baru di SMU Seinaru. Di jalan, dia bertemu dengan teman sekaligus tetangga apartementnya Seichiro Tora, ”Yo, Sena!! Kau terlambat juga rupanya?”(Tora). “Ah...berisik!! Jangan ngobrol sekarang, kita sudah hampir terlambat, tau!!”(Sena). “Bukankah menyenangkan bisa terlambat seperti ini?”(Tora). “Sudahlah!! Jangan banyak bicara...!!”(Sena). “Oi...!! Tunggu, Sena!!”(Tora). Mereka pun mempercepat laju mereka ke sekolah.
Mereka akhirnya sampai di sekolah tepat waktu dan Sena terlihat kelelahan. “Hah...hah...hah...untung saja masih sempat.”(Sena). Tora tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Sena. “Bukankah tadi pelarian yang menarik? Iya kan Sena?!”(Tora). “Menarik bagaimana!! Dasar Bodoh!!”(Sena). Mereka pun mengikuti upacara pembukaan tersebut sampai akhirnya diadakan pembagian kelas. Sena mendekati papan pengumuman bersama siswa-siswa yang lainnya. “Mmm...jadi aku di kelas 1B ya??”(Sena:Dalam Hati). Sena pun menuju kelas yang dituju dan mulai mencari tempat duduk. “Nah, kelihatannya bangku ini yang paling cocok.”(Sena). Tak disangka ternyata Sena satu kelas dengan Kawaima Hana, teman akrab Sena sejak kecil yang kebetulan merupakan orang yang disukainya. “Pagi Miyazaki...ternyata kau di kelas ini juga, ya?”(Hana). Hana memilih bangku di samping Sena. “Pa...pagi juga Kawaima, kebetulan sekali ya.”(Sena). “Iya ya, kebetulan sekali. Kalau begitu aku duduk di sini saja,ya?”(Hana). “I...iya...silahkan...”(Sena).
Bel pun berbunyi dan pelajaran pun di mulai. Guru pun mulai masuk kelas dan memperkenalkan diri, sedangkan Sena melamun dengan pandangan kosong keluar jendela. “Anak-anak sekalian, namaku adalah Yunoaki Mire, aku yang akan menjadi wali kelas kalian selama di kelas satu ini, jadi tolong patuhi setiap aturan dan jangan membuat pelanggaran, mengerti?!”(Yunoaki Sensei). “Mengerti Sensei!!”(Semua siswa kecuali Sena). Tanpa di sangka, Yunoaki Sensei memperhatikan gelagat Sena sejak tadi dan memanggilnya. “Hei kamu...anak berkacamata!”(Yunoaki Sensei). “Pst...Miyazaki, kau dipanggil sensei.”(Hana). “Eh...!! I...iya...sensei?”(Sena). “Kelihatannya kamu kurang memperhatikan...coba sekarang perkenalkan dirimu!”(Yunoaki Sensei). Sena pun berdiri dan mulai memperkenalkan diri. “Ba...baik..sensei.., Na...namaku adalah Miyazaki Sena, umurku 15 tahun, aku tinggal di apartement di daerah utara kota, hobiku adalah bermain game dan mendengarkan musik.”(Sena). “Begitu...sekarang coba beri alasan kenapa kau tadi tidak memperhatikanku?”(Yunoaki Sensei). “I...itu...maaf, tadi aku melamun.”(Sena). Semua murid dikelas terlihat tertawa. “Diam! Ini adalah hari pertamamu, jadi kau masih kuberi toleransi, tapi jika sekali lagi aku meilihatmu begitu, aku tidak punya pilihan selain memberi hukuman.”(Yunoaki Sensei). “Iya Sensei...maaf kalau aku tadi tidak mendengarkan.”(Sena). “Baiklah, sekarang apa ada yang ingin ditanyakan mengenai Sena?”(Yunoaki Sensei). Hana pun mengangkat tangannya. Sena yang mengetahui itu langsung gugup. “Ha...hana?”(Sena:Dalam Hati). “Iya, silahkan.”(Yunoaki Sensei). “Itu...apa cita-citamu?”(Hana). “Aku...aku..., aku ingin menjadi seorang Hyper suatu hari nanti!!”(Sena).
Tiba-tiba semua murid terdiam, namun ada seorang murid yang menyindir Sena, dia bernama Takahashi Ryuto. “Huh, Hyper? Bahkan dengan kekonyolanmu itu memang kau bisa jadi seorang Hyper?”(Ryuto). “Apa katamu?!!”(Sena). “Diam kalian berdua!! Ini baru hari pertama kalian, jangan jadikan ini sebagai ajang mencari musuh!! Lagipula apa itu yang disebut Hyper?!”(Yunoaki Sensei). “Mmm...kalau itu aku memang kurang tau, tapi aku dulu pernah diselamatkan oleh seorang Hyper yang hebat, karena itu...aku juga ingin menjadi seperti dia dan melindungi semua orang.”(Sena). “Alasan yang kekanak-kanakan.”(Ryuto). Sena yang tidak terima akhirnya menarik baju Ryuto. “Beraninya kau!!!”(Sena). “Sudah hentikan!!”(Hana). Yunoaki Sensei yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya memukulkan sebuah penggaris besar ke mejanya untuk menghentikan keduanya. “Sudah cukup!! Kalian berdua, ikut aku ke kantor kepala sekolah sekarang!!”(Yunoaki Sensei).
Sena dan Ryuto pun akhirnya mendapat hukuman untuk membersihkan koridor kelas seusai jam pelajaran. “Cih...gara-gara dia aku harus membersihkan koridor, sialan!!(Sena:Dalam Hati). Ryuto pun pergi meninggalkan Sena dengan pekerjaan yang masih berantakan. “Hei!! Lantainya masih kotor!! Kalau mau pergi, setidaknya selesaikan dulu tugasmu!!”(Sena). “Kalau aku tidak mau memang kenapa?!!(Ryuto). “Enak saja!! Itukan tugasmu!! Aku tidak mau kena marah sensei hanya karena tugas yang bukan bagianku tidak dikerjakan oleh bajingan sepertimu!!(Sena). “Lantas kenapa?!! Mau menantang berkelahi?!!”(Ryuto). Hana yang tak sengaja lewat pun akhirnya melerai keduanya. “Kalian berdua ini!! Sudah kena hukuman masih saja berdebat. Takahashi, kalau kau mau pergi silahkan.”(Hana). “Kawaima! Kenapa kau malah membiarkan dia pergi?! Dia bahkan sama sekali belum menyentuh tugasnya!!”(Sena). “Tidak apa-apa, sebagai gantinya...akulah yang akan membantumu dan menyelesaikan tugasnya.”(Hana). “Tapi inikan bukan tugasmu, lagi pula bukannya kau mulai latihan di club volly hari ini?”(Sena). “Ah...tidak masalah, lagipula kegiatan club-kan baru akan dimulai minggu depan.”(Hana). “Itu...maaf ya jadi menyusahkanmu. Hei! Kau juga harus minta maaf! Masih bagus kau tidak perlu mengerjakannya!”(Sena). “Aku tidak sudi berterima kasih dengan orang yang tidak ku kenal.”(Ryuto). “Oi! Kau!”(Sena). “Sudah! tidak masalah kok, lagipula aku memang ingin membantumu sejak awal.”(Hana). “Kau yakin?”(Sena). “Mmmm...ayo kita selesaikan lalu pulang.”(Hana). “Iya!”(Sena).
Sore harinya, mereka pulang bersama setelah menyelesaikan hukuman Sena. Sena terlihat gugup selama perjalanan. “Aku harus mulai dari mana, ya? Aduh!! Kenapa jadi canggung begini?”(Sena:Dalam Hati). “Mmmm...Miyazaki, soal yang tadi pagi, apa kau masih ingin mewujudkan mimpi itu?”(Hana). “Eh? Oh, ya...tentu saja, itu kan mimpiku sejak kecil & aku tak akan memaafkan bajingan seperti Ryuto itu! Dan terlebih lagi aku masih terkejut, kalau kau akan bertanya seperti itu.”(Sena). “Eh, i...itu, aku hanya ingin tau saja. Tapi, apa itu tidak menjadi beban buatmu?”(Hana). “Maksudnya? ”(Sena). “Sampai sekarang, kau bahkan tidak tau siapa orang itu, dan lagi bagaimana kau akan menjadi Hyper jika kau sama sekali tidak tau soal itu?”(Hana). “Ya, mungkin kau benar, tapi aku tidak akan menyerah, karena suatu hari nanti, aku pasti akan jadi seorang Hyper.”(Sena). “Begitu ya...”(Hana). Sejenak Hana teringat kembali tentang masa kecilnya saat bermain dengan Sena, sedangkan mereka akhirnya sampai di depan rumah Hana. “Hei Kawaima, kau kenapa? Dari tadi terlihat murung.”(Sena). “Ah...ti...tidak ada apa-apa kok, Miyazaki, kalau begitu sampai bertemu besok.”(Hana). “I...iya...sampai jumpa besok.”(Sena). Sena pun melanjutkan perjalanannya ke rumah. “Huh...benar-benar hari yang melelahkan, aku harap Hana baik-baik saja.”(Sena:Dalam Hati).
Keesokkan paginya, Sena berangkat ke sekolah bersama Tora. “Hehe...awal yang bagus untuk semangat pagi, bukankah begitu Sena?”(Tora). “Hwaammm...gara-gara kau aku semalaman jadi susah tidur.”(Sena). “Maaf...maaf, aku semalaman memang kedatangan saudaraku yang tiba-tiba saja ingin menginap. Yah, memang dia tipe orang yang hyperaktif.”(Tora). “Bukankah kau juga sama saja...”(Sena:Dalam Hati). Mereka pun lewat di depan rumah Hana dan Hana terlihat baru keluar rumah. “Aku berangkat...!”(Hana). “Hehe...kelihatannya akan ada jackpot Sena.”(Tora). “Hust...kau ini...”(Sena). “Oh, pagi...Miyazaki, Seichiro.”(Hana). “Pagi...Hana/Pa...pagi...juga Kawaima.”(Tora & Sena). “Kalau begitu aku duluan ya Sena, dah...”(Tora). Tora pergi sambil mengacungkan ibu jarinya. “Dia melakukannya dengan sengaja!!”(Sena:Dalam Hati). “Ada apa Miyazaki?”(Hana). “Ah...tidak ada apa-apa kok, hehehe...”(Sena). “Ka...kalau begitu kenapa kita tidak berangkat bersama saja?”(Hana). “Boleh juga...”(Sena).
Mereka berdua berjalan ke sekolah sambil berbincang-bincang. “Sudah lama sekali ya...sejak terakhir kali kita berangkat sekolah bersama seperti ini.”(Hana). “Benar juga ya, kita memang sudah jarang seperti ini.”(Sena). “Soal yang kemarin itu, maaf ya, aku jadi membuatmu khawatir.”(Hana). “Ah, tidak apa-apa kok, melihat kau yang ceria seperti sekarang sudah membuatku lega.”(Sena). “Ya...dan semalaman sudah kuputuskan...”(Hana). “...”(Sena). “Aku akan tetap mendukungmu seperti dulu, Sena.”(Hana). “Eh, itu kan...”(Sena). “Ada apa? Ada yang salah ya dari ucapanku, ya?”(Hana). “Tidak juga kok, aku tadi cuma kaget saat kau memanggil dengan nama depanku.”(Sena). “Tapi baguskan, lagi pula sudah cukup lama juga aku tidak memanggilmu dengan panggilan itu.”(Hana). “Mmm...ya baiklah, aku juga tak keberatan kok, Hana.”(Sena). “Hehehe...kau juga memanggilku dengan nama depanku.”(Hana). “Tidak apa-apa kan”(Sena). “Ya...aku senang kok.”(Hana). “Syukurlah kalau memang begitu...hehehe.”(Sena). Awal dari perjalanan panjang. Lembar ceria ini telah dibuka.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks