Chapter 35
(Double Battleground)
Benda yang mengingatkan kembali akan kenangan mereka yang telah tiada. “Apa yang kakak ingin berikan padaku?”(Sena). Yuki dengan memantapkan hatinya, mengeluarkan sesuatu. “Apa ini?”(Sena). “Bukalah...”(Yuki). Saat Sena membuka kain pembungkusnya, Sena sangat terkejut melihat benda tersebut yang ternyata adalah sebuah samurai yang masih sangat bagus. “!!!”(Sena). “Itu adalah benda peninggalan kedua orangtuamu.”(Yuki). “Tunggu dulu, apa maksudnya ini?! Kenapa bisa ayah dan ibu punya benda seperti ini?”(Sena). Yuki terdiam sejenak. “Karena mereka berdua adalah pasangan Hyper yang mendapat julukan Sang Dua Pilar Penjaga.”(Yuki). “Ap...apa...apa maksud kakak?”(Sena). “Penjelasannya nanti saja! Kita harus menghadapi orang itu dulu!”(Yuki). “Ba...baik!!”(Sena). Sagura sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua. “Sudah selesai pembicaraannya? Aku sudah mulai bosan.”(Sagura). Sena terlihat tersenyum. “Terima kasih...kakak...”(Sena). Sena perlahan menarik samurainya. “Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Kali ini, aku akan bertarung serius melawanmu!”(Sena). “Akhirnya...aku hanya berpikir, akan jadi tidak adil jika aku bertarung melawanmu yang tidak memiliki senjata sama sekali, tapi sekarang kau sudah memilikinya, jadi aku tidak perlu ragu lagi...”(Sagura). “Itulah yang sudah aku tunggu dari tadi! Bertarung dengan lawan yang serius...hehehe...”(Sena). “Sena, aku akan menjadi backup-mu, jadi kau tak perlu ragu dan teruslah maju menghadapinya!”(Yuki). “Baguslah kalau begitu! Ayo, kita mulai sekarang!”(Sena).
Pertarungan sengit antara Sagura melawan Sena dan Yuki telah dimulai. Kali ini pertarungan berjalan seimbang. Samurai milik Sena dan Yuki bergantian menghantam senjata milik Sagura. “Dua lawan satu, bukannya itu kurang adil?”(Sagura). “Kalau melawanmu, tidak ada yang tidak adil!”(Sena). “Lagipula, tujuan utama kami melawanmu sekarang ini adalah untuk keluar dari sini! Bukan untuk bertarung mati-matian melawanmu!”(Yuki). “Kalau memang begitu, aku semakin tidak punya alasan lagi untuk membiarkan kalian berdua untuk tetap hidup...”(Sagura). Sementara itu, Ryuto menghadapi pertarungan dengan Moku. “Sebenarnya, apa tujuanmu ke sini? Ini sama sekali tidak ada urusannya denganmu?”(Moku). “Ada hal penting yang harus aku lakukan, dan aku ingin kau jangan menghalangi jalanku!”(Ryuto). Ryuto terus mendesak mundur Moku, sedangkan Hana dan teman-temannya memperhatikan pertarungan Ryuto. “Apa kau yakin, bahwa dia sama sekali tidak akan menipu kita?”(Mayumi). “Aku juga sependapat dengan Mayumi! Kalau perkiraanmu meleset, kita bisa dalam bahaya!”(Saki). “Tidak! Aku tetap percaya padanya!”(Hana). Pertarungan antara Ryuto dengan Moku terus berlangsung. Di tengah pertarungan, Ryuto melihat ke arah Hana. Tiba-tiba, serangan Ryuto menjadi berubah drastis. “Kenapa ini?! Kekuatan dorongannya menjadi semakin kuat!”(Moku:Dalam Hati).
Dengan sekuat tenaga, Ryuto berhasil mendesak posisi Moku. “Kalian semua! Cepat pergi sekarang! Aku yang akan menahan orang ini!”(Ryuto). “Begitu ternyata! Dia sengaja bertarung denganku hanya untuk membuka jalan bagi mereka...”(Moku:Dalam Hati). “Sekarang!”(Hana). Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Hana dan teman-temannya langsung bergerak maju. Ryuto hanya tersenyum saat Hana berlari melewatinya. Kembali ke dalam bangunan itu, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Tetesan darah tercecer di mana-mana. Ternyata Sena dan Yuki terlihat terluka parah karena serangan Sagura. “Kakak...Kakak baik-baik sajakan?”(Sena). “Aku tidak apa-apa. Jangan turunkan kewaspadaanmu! Kau bisa terkena serangannya dengan mudah!”(Yuki). “Aku tau, tapi dalam keadaan sekarang ini, aku rasa kita belum tentu bisa menghadapi dia.”(Sena). “Bukannya kau yang bilang akan bertarung melawannya dengan sungguh-sungguh?”(Yuki). “Tapi, keadaan kakak jauh lebih penting dari pertarungan ini! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada kakak.”(Sena). “Tenang saja, aku sudah biasa menghadapi situasi ini. Kau fokus saja mengalahkannya.”(Sena). Tiba-tiba terdengar gema suara Sagura di ruangan itu. “Ikatan adik dan kakak yang luar biasa. Aku jadi merasa bersalah karena sudah membuat kalian seperti ini...”(Sagura). Sena yang mendengarnya terlihat emosi. “Pengecut!! Tunjukkan dirimu! Lawan aku secara langsung!”(Sena). “Secara langsung ya...”(Sagura). Sena terlihat sangat siaga, namun tiba-tiba Sagura sudah berada di antara Sena dan Yuki. “Tapi sayangnya...aku sudah di sini sejak tadi...”(Sagura). “!!!”(Sena). Tetesan darah yang kembali mengalir. Dua lawan satu, namun berbanding terbalik.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar