Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 34 )


Chapter 34

(Memento)

Maju ke depan, Hana telah memantapkan tekadnya untuk tetap menolong Sena. Sementara itu, di ruangan di mana Sena berada. “Luar biasa, sebelumnya belum pernah ada yang bisa menghindari seranganku tadi.”(Sagura). “Kalau begitu, itu artinya baru aku saja, satu-satunya orang yang bisa menghindari seranganmu tadi?”(Sena). Sagura hanya tersenyum. “Begitulah...”(Sagura). “Kakak tidak apa-apakan?”(Sena). “Ya, tapi...”(Yuki). Tiba-tiba Yuki memukul kepala Sena. “Aaakkhhh!! Sakit! Kakak ini kenapa?!”(Sena). “Dasar ceroboh! Kau bisa saja mati tadi!”(Yuki). “...”(Sena). “Kau mungkin sudah belajar banyak hal dari orang itu, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya sendiri! Pikirkan juga nyawamu!”(Yuki). Sena langsung tersenyum mendengar itu. “Jadi...Hana belum memberitau kakak sesuatu hal yang penting, ya?”(Sena). “Apa maksudmu?”(Yuki). “Saat mereka bertemu denganku waktu itu, aku pernah bilang pada mereka...”(Sena). Sena menatap ke arah Sagura dengan penuh percaya diri. “Aku, tidak akan mati semudah itu! Aku pasti akan jadi seorang Hyper yang kuat! Dan sampai itu terwujud, aku akan tetap berusaha! Apapun rintangannya, pasti akan aku lalui!”(Sena). Yuki sekali lagi teringat pada seseorang. “Kenapa? Kenapa kau sama dengannya, Sena?”(Yuki:Dalam Hati). “Sepertinya, waktu bermain-mainnya sudah habis. Akan ku akhiri saja sekarang.”(Sagura). “Tidak secepat itu! Lawanmu adalah aku!”(Sena). “Boleh juga...”(Sagura).
Sagura pun kembali berusaha melancarkan serangan ke arah Sena, tapi kali ini Sena dalam keadaaan siap. Saat Sagura sudah tepat berada di hadapan Sena, tiba-tiba dia kembali menghilang. “Dia menghilang lagi!”(Sena:Dalam Hati). Yuki masih diam tak bergeming, namun tiba-tiba Sena merasakan keberadaan Sagura. “!!!”(Sena). Saat Sena baru menyadarinya, ternyata yang diincar bukan dia, tapi Yuki. Sagura berusaha menyerang Yuki yang masih terdiam dari belakang. “Kakak!! Di belakangmu!!”(Sena). Yuki yang mendengar teriakan Sena langsung tersadar, namun dia terlihat terlambat menghindar. Terdengar suara tebasan beserta tetesan darah. “!!!”(Yuki). Ternyata, Sena menghalangi serangan Sagura dengan kedua tangannya. “Hmmpp...”(Sena). “Se...Sena...”(Yuki). “Bukannya...tadi kakak yang bilang untuk jangan legah, tapi kenapa justru kakak yang malah diam seperti itu?”(Sena). Yuki hanya terdiam mendengar Sena. “Aku bukan anak kecil lagi...aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri. Ini adalah pilihanku dan aku sama sekali tidak menyesalinya. Jadi, kakak tidak perlu khawatir soal diriku lagi.”(Sena). Sagura yang senjatanya berhasil ditahan oleh Sena hanya bisa tercengang. “Hebat juga dia...Dia mampu menyadari seranganku. Bukan hanya itu, dia bahkan mampu menangkap senjata milikku. Anak ini, memang bukan anak biasa...”(Sagura:Dalam Hati). “Berani sekali kau mengincar seseorang yang bukan lawanmu. Yang menjadi lawanmu itu aku, jadi jangan mengalihkan sasaranmu ke orang lain, tau!”(Sena). Sagura pun mundur menjaga jarak. “Kau memang berbeda, Sena...Kau punya sesuatu yang istimewa dalam dirimu.”(Sagura). “Aku sama sekali tidak peduli, istimewa atau tidak itu urusanku, bukan urusanmu!”(Sena). “Kau memang sulit diajak bicara rupanya...”(Sagura). “Yah, banyak orang yang bilang begitu!”(Sena). “Kalau begitu, akan kubuat kau berhenti bicara...”(Sagura).
Sagura langsung mengeluarkan tekanan kekuatannya yang sangat besar. “Jadi kau bisa serius juga rupanya?”(Sena). Yuki yang juga merasakan kekuatan Sagura langsung terkejut dan terlihat panik. “Ini gawat!! Kekuatan ini...”(Yuki:Dalam Hati). “Kakak diam saja di situ. Serahkan semuanya padaku!”(Sena). “...”(Yuki). Tekanan yang luar biasa itu langsung stabil, tapi ada sesuatu yang berubah dari Sagura. “Ayo kita mulai, Sena!”(Sagura). “Tentu saja...”(Sena). “Tunggu dulu! Sena!”(Yuki). “Kenapa kak? Bagaimana pun kakak berusaha mencegahku, aku tidak mungkin lari dari lawanku.”(Sena). “Tidak, aku hanya ingin mempercayakanmu sesuatu...”(Yuki). “...”(Sena). Yuki teringat dengan saat-saat terakhir dia bertemu dengan Ibu dari Sena. “Kakak mau ke mana?”(Yuki). “Ada hal yang harus kami lakukan. Tolong jaga Sena baik-baik, ya. Kami bergantung padamu...”(Haruka). “Tapi kakak! Kau dan juga Kak Hyuso bisa...”(Yuki). “Kami mengandalkanmu...Yuki...”(Haruka). Haruka pun pergi meninggalkan Yuki bersama Sena. Kembali ke masa sekarang, Yuki berusaha memberikan Sena sesuatu. “Apa yang ingin kakak berikan padaku?”(Sena). “Sesuatu, milik kedua orangtuamu...”(Yuki). “!!!”(Sena). Benda kenang-kenangan dari mereka yang telah tiada. Sena telah memasuki medang pertarungan yang sebenarnya.




To Be Continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks