Chapter 32
(Counterattack)
Penyelamatan yang penuh dengan emosi. Sena yang sedari tadi pingsan mulai siuman. “Di mana ini?”(Sena). Kuroda ternyata sudah ada di sebelah Sena. “Kau sudah sadar rupanya.”(Kuroda). Sena yang melihat Kuroda langsung terkejut. “Kau?!”(Sena). “Kenapa? Apa ada hal yang mengganggumu?”(Kuroda). “Sial! Apa yang kau lakukan padaku?!”(Sena). “Tidak ada, aku hanya sedang menunggu seseorang.”(Kuroda). “Lepaskan aku!”(Sena). “Masih belum, kau masih punya hal yang terkait denganku.”(Kuroda). “Aku sama sekali tidak peduli! Lihat saja! Aku pasti akan menghajarmu!”(Sena). Kuroda pun hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Sena. “Hei! Mau ke mana kau?!”(Sena). “Menyiapkan pesta penyambutan, jadi tolong bersabar ya, Sena.”(Kuroda). Sena yang mendengarnya benar-benar tidak bisa menahan emosinya. “Sial!!”(Sena). Kuroda pun berlalu, Sena terus kebingungan dan berusaha untuk melepaskan diri. “Ikatan ini, bukan sekedar ikatan biasa. Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang, ternyata masih belum bisa melepas ikatan ini, sial!”(Sena:Dalam Hati). Sena yang sedari tadi berusaha melepaskan diri, terlihat sudah kelelahan dan putus asa. “Aku...bahkan dengan semua latihan yang telah aku lakukan, ternyata masih belum bisa melakukan apa-apa. Apa...Apa latihanku selama ini hanya akan jadi sia-sia...?”(Sena:Dalam Hati).
Setelah sekian lama Sena terdiam, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah pintu di mana Kuroda sebelumnya pergi. “Suara ini...”(Sena:Dalam Hati). Dari kejauhan terdengar suara seseorang yang tidak asing bagi Sena. “Sena! Sena!”(Unknow). Terlihat Moku datang menghampiri orang tersebut. “Wah...wah...aku kira tamu besar yang yang datang, ternyata hanya kalian...”(Moku). Ternyata orang yang berada di hadapan Moku adalah Hana dan teman-temannya. Hana menatap Moku dengan penuh amarah. “Apa kau serius, Hana?”(Mayumi). “Kita sudah terlanjur ke sini, sudah tidak bisa mundur lagi.”(Saki). “Tapi...memangnya apa yang bisa kita lakukan?”(Mayumi). Hana dengan penuh percaya diri melangkah maju mendekati Moku. “Tolong katakan, di mana kalian menyekap Sena?”(Hana). “Percaya diri juga...tapi kau tentu tau apa jawabanku. Jadi, jangan sia-siakan energimu untuk hal yang sudah pasti tidak akan kau dapatkan.”(Moku). “Hana! Kau ini ingin bunuh diri atau apa?! Dia itu adalah Hyper, dia bisa melakukan apa saja kepadamu.”(Mayumi). Saki secara spontan maju ke samping Hana. “Aku akan melindungimu!”(Saki). “Saki, kau juga...”(Mayumi). “Kan aku sudah bilang, kita tak punya pilihan lain. Hadapi saja dia, lagipula ini juga demi menyelamatkan Sena.”(Saki). Mayumi terdiam sejenak.
Di dalam ruangan di mana Sena di sekap, Sena terus meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Ayo...sedikit lagi...”(Sena). Terlihat, ikatan di tangan Sena mulai mengendur. “Bagus! Tinggal satu hentakan lagi...”(Sena). Tiba-tiba, Sagura datang ke tempat Sena. Sena yang menyadari itu langsung menghentikan usahanya melepaskan diri. “Aku rasa, ada tamu untukmu di luar...kenapa kau tidak mengehampiri mereka?”(Sagura). Sena terlihat tersenyum kecil. “Memangnya siapa yang datang? Aku jadi penasaran.”(Sena). “Hmmm...Teman perempuan kesayanganmu beserta teman-temannya...”(Sagura). Sena yang mendengarnya langsung terkejut. “Kenapa? Ekspresimu terlihat kurang senang. Ayolah, ceria sedikit...Bukankah mereka itu teman-teman yang berharga bagimu?”(Sagura). “Hana...dan yang lainnya! Kenapa mereka harus ke sini?!”(Sena:Dalam Hati). “Santai saja...secepatnya mereka pasti akan bertemu denganmu...di ruangan ini...”(Sagura). Sagura terlihat akan meninggalkan Sena. Di saat Sagura berpaling dari Sena, tiba-tiba Sena lepas dari ikatannya dan langsung berusaha menyerang Sagura dari belakang. Namun, serangan Sena serasa seperti dipantulkan oleh sebuah perisai yang tidak terlihat. Sena pun terhempas mundur. “Usaha yang bagus, tapi masih belum cukup untuk menyaingiku apalagi Kuroda...”(Sagura). Dalam sekejap mata, tiba-tiba Sagura sudah berada di belakang Sena dan berusaha menyerang balik. “Jadi...jangan bermimpi terlalu jauh...”(Sagura). “Sial...!”(Sena:Dalam Hati). Sena terlihat tidak akan mungkin bisa menghindari serangan dari Sagura, tapi tiba-tiba ada seseorang yang memblok serangan Sagura dengan cepat. Sagura pun mundur beberapa langkah. “Begitu...jadi mereka yang di luar hanya umpan rupanya...”(Sagura). Sena yang melihat kehadiran orang itu hanya bisa terdiam. “Ke...kenapa...?”(Sena). Bantuan telah datang. Cahaya yang terpantul dari sebuah samurai itu, telah menyamakan keadaan.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar