Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 31 )


Chapter 31

(Promise)

Di gedung di mana Sena disekap, terlihat Kuroda sedang berbicara dengan seseorang yang baru saja datang. “Bagaimana?”(Kuroda). “Mereka pasti akan datang. Semua masih berjalan lancar sampai sekarang.”(Unknow). “Benar-benar kabar yang teramat sangat baik. Moku! Sagura!”(Kuroda). Kedua anak buah Kuroda yaitu Shigurasi Moku dan Houzuki Sagura datang menghadap Kuroda. “Segera siapkan pesta penyambutan. Kita akan kedatangan tamu istimewa.”(Kuroda). “Begitu...Jadi kau sudah berhasil, ya?”(Moku). “Tidak juga, ini kan baru langkah awal. Selanjutnya adalah giliran kalian.”(Unknow). “Menarik juga...Bisa bertarung dengan mereka lagi.”(Sagura). “Tenang saja, simpan hadiah kalian untuk mereka nanti. Kali ini, pasti akan jadi pesta yang meriah.”(Kuroda). Sementara itu, Hana, Saki, dan Mayumi terlihat berlari entah ke mana. “Hei Hana, apa kau yakin dengan hal ini?”(Saki). “Iya, bagaimana kalau semuanya jadi tambah buruk?”(Mayumi). “Tidak! Aku percaya, pasti bisa!”(Hana). “Iya aku tau, tapi setidaknya kita kan harus pikir-pikir dulu soal ini.”(Saki). “Pasti berhasil! Aku tidak akan menyerah!”(Hana).
Hana teringat dengan Sena saat mereka masih kecil dulu. Terlihat Hana sedang diganggu oleh segerombolan anak nakal. Sambil menangis, Hana berusaha mengambil boneka kesayangannya dari anak-anak itu. “Kembalikan...kembalikan bonekaku...”(Hana). “Huh, boneka jelek ini? Ambil saja kalau kau bisa!”(Anak 1). Hana pun bangkit dan berusaha merebut bonekanya kembali. “Kembalikan! Kembalikan...!”(Hana). “Eits...masih kurang cepat...”(Anak 1). “Hahahaha...”(Anak-anak yang lainnya). “Kembalikan!!”(Hana). “Hei! Tangkap!”(Anak 1). Anak pertama melemparkan boneka itu ke temannya dan terus-menerus. Setelah sekian lama mengejar, Hana nampak terdiam. “Kenapa? Sudah lelah, ya? Hahahaha!”(Anak 1). “Hahahaha...”(Anak-anak yang lainnya). Hana yang masih terlihat menagis tiba-tiba melompat dan menggigit tangan anak yang memegang bonekanya. “Akkhh...Sakit!!”(Anak 1). “Hei! Berani sekali kau!”(Anak 2). Anak yang kedua mendorong Hana sampai jatuh. “Kurang ajar! Benar-benar tidak bisa diberi ampun!”(Anak 1). Terlihat anak pertama akan menginjak kepala Hana. Hana hanya bisa menangis tidak berdaya. Tiba-tiba, datang Sena yang langsung menghajar anak pertama sampai tersungkur. “Sial! Siapa kau?!”(Anak 1). Anak-anak yang lain berusaha membantu anak itu. “Kau tidak apa-apa kan bos?”(Anak 2). Terlihat Sena berdiri di depan Hana. “Tenang saja, aku pasti akan merebutnya kembali.”(Sena). Anak yang dihajar Sena tadi terlihat marah besar. “Hei! Jangan diam saja! Cepat hajar anak itu!”(Anak 1). “Baik!”(Anak 2). Kedua anak dari gerombolan itu berlari dan berusaha menghajar Sena. “Awas kau!”(Anak 3).
Sena dan kedua anak itu pun berkelahi habis-habisan, tapi ternyata Sena kalah karena kalah jumlah. Gerombolan anak itu perlahan mendekati Sena. “Hehehe...itu akibatnya berani macam-macam dengan kami!”(Anak 1). Tapi, Sena secara spontan mendorong anak pertama hingga jatuh, lalu mengambil boneka milik Hana. “Kau...! Masih belum jera rupanya! Ayo, injak dia!(Anak 1). Ketiga anak itu terus menginjak Sena, tapi Sena tetap bertahan sambil mendekap boneka milik Hana. Setelah agak lama, ketiga anak itu pun akhirnya berhenti. “Sudah cukup! Tidak menarik melawan dia. Dia sama sekali tidak sebanding dengan kita!”(Anak 1). “Benar! Dia hanya anak lemah!”(Anak 3). “Ayo! Kita cari tempat lain saja!”(Anak 1). Ketiga anak itu pun pergi. Hana perlahan-lahan mendekati Sena yang masih terbaring. “Kau...”(Hana). Sena menunjukkan boneka itu pada Hana. “Ini...aku berhasil mengambilnya kembali.”(Sena). “Tapi kau...”(Hana). “Kan aku sudah bilang, aku pasti akan merebut bonekamu kembali. Itu janji, dan aku sudah menepatinya.”(Sena). “Tapi kau kan terluka.”(Hana). “Tidak apa-apa, aku sudah biasa kok. Ini belum ada apa-apanya dari pada pukulan kakakku.”(Sena). Hana terlihat tersenyum. “Terima kasih...”(Hana). “Iya!”(Sena). Tak lama kemudian, Yuki datang. “Sena! Kenapa kau sampai begini? Kau pasti berkelahi lagi?!”(Yuki). “Tidak kok, kan aku sudah janji sama kakak. Lagipula, aku kan hanya menolong dia.”(Sena). “Kau ini...dasar keras kepala!”(Yuki). Yuki menarik teliga Sena. “Aduh! Aduh!”(Sena). “Benar kok, Kak. Dia begitu karena dia hanya ingin menyelamatkan Pi-chan.”(Hana). “Pi-chan?”(Sena). “Iya, itu adalah nama bonekaku ini.”(Hana). “Begitu ya...”(Sena). Sena menjabat tangan boneka yang di dekap Hana. “Salam kenal Pi-chan.”(Sena). “Oh ya, namamu siapa?”(Hana). “Sena...Miyazaki Sena!”(Sena). “Sena, ya? Namaku Kawaima Hana, salam kenal.”(Hana). “Iya, senang bisa berkenalan denganmu.”(Sena). Mereka berdua bersalaman. Kembali ke sekarang, Hana masih berlari sambil meneteskan air mata. “Tunggu aku...Sena. Kini giliranku untuk menolongmu...”(Hana:Dalam Hati). Perasaan yang telah terjalin sekian lama, dua hati yang tak pernah terpisahkan.




To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks