Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 28 )


Chapter 28

(Pain)

Air mata Yuki terus mengalir, seakan menggambarkan kesedihan yang telah dipendamnya selama ini. “Kenapa kau harus kembali?!”(Yuki). “Aku tidak menyangka, kau adalah...”(Kira). “Kenapa harus adikku?! Apa belum cukup kau meninggalkanku selama ini?! Dan kau kembali untuk mengambil sesuatu milikku!”(Yuki). Sena terlihat bingung. “Sebenarnya ada apa ini?! Apa yang terjadi?!”(Sena). “Hana, tolong bawa Sena pergi dulu. Aku masih ada urusan dengan orang ini.”(Yuki). “I...iya...Ayo Sena, kita pergi.”(Hana). “Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kakak menjelaskannya padaku!”(Sena). “Dasar keras kepala! Apa kau tidak dengar apayang aku katakan tadi?!”(Yuki). “Tetap saja, aku akan bertahan di sini!”(Sena). “Ayolah, Sena...kita harus membiarkan mereka berdua dulu.”(Hana). “Akan kulakukan itu, hanya jika aku sudah dengar jawabannya!”(Sena). “Aku bilang pergi sekarang juga!!”(Yuki). Sena semakin bertambah kesal. “Tidak apa-apa Sena, aku memang ingin bicara empat mata dengannya.”(Kira). “Kira...”(Sena). “Ayo kita keluar Sena, akan kujelaskan semuanya di tempat lain.”(Hana). Sena perlahan mulai tenang. “Baiklah...”(Sena). Sena dan Hana pergi meninggalkan Kira dan Yuki di apartement Sena.
Di dalam apartement, suasana mulai terlihat tegang. “Baik, jadi kita mulai dari mana?”(Kira). “Cukup jawab pertanyaanku tadi! Kenapa kau kembali? Kenapa kau bisa bertemu dengan Sena? Dan kenapa kau sampai menjerumuskan Sena dalam hal yang sama denganmu?! Kena...”(Yuki). Kira dengan spontan memeluk Yuki dengan erat dan terlihat raut wajah menyesal dari Kira. “Maafkan aku...Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu atau apapun itu. Aku pergi untuk kebaikanmu dan juga semua orang.”(Kira). Yuki hanya bisa terdiam dan air matanya mengalir semakin deras. “Bodoh...kau benar-benar bodoh...”(Yuki). Sementara itu, Sena dan Hana terlihat sedang duduk di taman. Hana menceritakan semuanya pada Sena. “Jadi...Kakak sudah tau semuanya?”(Sena). “Umm...maaf, aku tidak bisa menepati janjiku.”(Hana). “Tidak masalah, lagipula cepat atau lambat kakak pasti akan tau. Tapi, dari ekspresi dan percakapan mereka berdua, mereka terlihat sudah saling mengenal dengan akrab sebelumnya.”(Sena). “Mungkin saja...”(Hana). “Lalu, bagaimana reaksi kakak saat kau menceritakan semuanya? Apa kakak mengatakan sesuatu soal Kira?”(Sena). “Tidak, dia tidak mengatakan sesuatu soal itu, tapi dari ekspresinya, Kak Yuki terlihat seperti tidak percaya dan seolah-olah ada rasa sakit yang teramat sangat ketika dia mendengar nama Kira.”(Hana). “Begitu ya, tapi aku yakin pasti mereka berdua punya sebuah hubungan sebelumnya, tapi aku tidak tau sejauh mana.”(Sena). “Tapi aku mohon, tolong kau jangan tanyakan apapun pada Kak Yuki dulu. Sebagai sesama perempuan, aku tau dengan benar apa yang mungkin dirasakannya saat ini. Jadi, tolong biarkan dia tenang dulu.”(Hana). “Iya, aku tau hal itu, tapi aku percaya, Kira pasti lebih bisa memahami perasaan kakak dari siapapun.”(Sena). “Semoga saja...”(Hana).
Kembali ke apartement Sena. Kira dan Yuki terlihat sedang duduk berhadapan dan melanjutkan pembicaraan mereka sambil meminum teh hangat. “Aku tau, tindakanku memang membuatmu kecewa, tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk...”(Kira). “Bisa kita ganti topik pembicaraannya? Aku hanya ingin tau tentang masalah yang terjadi pada Sena, hanya itu.”(Yuki). “Maaf...Yah, seperti yang kau dengar dari Hana. Sekarang ini, Sena sedang diincar. Aku juga belum mengerti hal itu, tapi aku tau siapa dibalik semua itu.”(Kira). “Kenapa harus dia? Kenapa harus Sena? Kenapa harus adikku?”(Yuki). “Aku belum tau pasti, tapi mungkin ini ada kaitannya dengan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu.”(Kira). Yuki hanya tertunduk lesu melihat ke cangkir tehnya dengan tatapan kosong penuh kesedihan. “Yuki...apa kau baik-baik saja?”(Kira). “Tidak, tidak ada apa-apa.”(Yuki). “Syukurlah kalau begitu...”(Kira). Yuki masih terus terlihat merenung dalam waktu yang cukup lama, sedangkan Kira terus mengamatinya. “Kau yakin baik-baik saja?”(Kira). “Yah...aku baik-baik saja?”(Yuki). “Begitu...”(Kira). Yuki terdiam sejenak. “Kira...apa aku boleh minta satu hal padamu?”(Yuki). “Tentu, memang apa yang ingin kau minta?”(Kira). “Aku ingin...kau jangan pernah bertemu dengan Sena atau pun aku atau siapapun yang kami kenal lagi.”(Yuki). Kira yang mendengarnya sontak terkejut. “Hei, kau ini bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti?”(Kira). Rasa cinta yang berubah menjadi rasa sakit. Dan sekarang, rasa sakit itu telah melahirkan kebencian yang tak dapat terbendung.




To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks