Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 27 )


Chapter 27

(Come Back)

Beberapa hari setelah kejadian itu, Hana tampak sedang duduk sendirian di salah satu bangku di taman. “Sudah beberapa hari...aku harap Sena bisa segera kembali dengan selamat...”(Hana:Dalam Hati). Tiba-tiba ada seseorang yang menawarkannya minuman. “Hei...kenapa lesu begitu?”(Unknow). Hana pun melihat ke arah orang itu yang ternyata adalah Yuki. “Ka...Kak Yuki?”(Hana). “Semangatlah, ini hari yang cerah lo...”(Yuki). “Ya...”(Hana). “Sebenarnya ada apa? Dari tadi aku perhatikan, kau melamun terus. Kau sedang ada masalah, ya?”(Yuki). Hana pun menerima minuman yang diberikan oleh Yuki. “Tidak...tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong kenapa kakak bisa ada di sini?”(Hana). “Itu...aku tadi sebenarnya ingin menghampiri Sena, tapi dia sama sekali tidak ada di apartementnya. Oh ya, apa kau tau dia ke mana? Aku juga ingin memberikan kue kesukaannya ini.”(Yuki). “Ti...tidak...aku sama sekali tidak melihatnya...”(Hana). “Begitu ya. Yah...dia itu orangnya memang keras kepala dan suka seenaknya sendiri. Aku hanya berharap dia tidak akan merepotkan teman-temannya.”(Yuki). Hana pun teringat dengan perkataan Sena. “Tolong kakak jangan diberitau dulu soal ini. Kalian tentu tau sikapnya, kan? Aku yang akan mengatakannya sendiri jika saatnya tepat.”(Sena). Yuki pun menyadarkan Hana yang melamun. “Hei, benar kau baik-baik saja?”(Hana). “Tentu...tentu saja...”(Hana). “Sikapmu terlihat aneh, seperti ada yang kau sembunyikan...”(Yuki). Hana mulai terlihat panik. “Tidak kok, aku tidak menyembunyikan apa pun.”(Hana). “Sudah ceritakan saja, aku kan sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, jadi tidak apa kalau kau menceritakannya padaku.”(Yuki). “Apa yang harus aku katakan...Kak Yuki mungkin tidak akan tenang jika aku menceritakannya, tapi...”(Hana:Dalam Hati).
Sementara itu, di dalam hutan. Kira dan Sena sudah terlihat berkemas-kemas. “Baiklah, sudah waktunya kita kembali.”(Kira). “Iya, tidak terasa ya, semua seperti berlalu dengan cepat...”(Sena). Tiba-tiba terlihat seekor beruang yang cukup besar mendekati mereka. “Kau...”(Sena). “Sena, itu kan...”(Kira). Beruang itu pun berada di hadapan Sena, lalu menjilati wajah Sena. “Hahahaha...sudah hentikan! Geli tau...”(Sena). “Tak kusangka, kalian bisa akrab dalam waktu sesingkat itu.”(Kira). “Ya begitulah, kami sudah sangat dekat sejak waktu itu...”(Sena). Beruang itu pun duduk di depan Sena dan Sena pun mengusap kepalanya. “Maaf ya...aku harus segera kembali. Terima kasih karena telah membantuku...”(Sena). Beruang itu terdiam dan terlihat jinak dihadapan Sena. “Tidak perlu sedih, aku pasti akan mengunjungimu lagi. Aku ingin, kau dan semua yang ada di sini bisa menjaga hutan ini dengan baik...karena ini adalah rumah kalian.”(Sena). Kira terlihat akan pergi. “Ayo Sena!”(Kira). “Tunggu sebentar! Sudah dulu ya, jaga diri kalian baik-baik dan salam juga untuk keluargamu...”(Sena). Beruang itu mengangguk seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Sena. Sena dan Kira pun pergi meninggalkan beruang itu dan hewan-hewan lain di hutan itu. Sena berbalik dan melamnaikan tangan. “Dah...sampai bertemu lagi...”(Sena). “Kau sudah sangat akrab dengan mereka semua rupanya.”(Kira). “Tentu saja! Mereka kan teman-teman yang telah membantuku selama ini. Sebenarnya sih, berat juga meninggalkan mereka, tapi bagimana pun ini adalah rumah mereka, jadi aku yakin mereka pasti akan bahagia di sini.”(Sena). “Ya...aku juga berpikir begitu.”(Kira). “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar teman-teman, ya? Walapun belum terlalu lama kami berpisah, tapi ternyata rindu juga...”(Sena).
Mereka pun menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke kota. Setelah sekian lama berjalan mereka sampai di apartement Sena. “Akhirnya sampai juga!”(Sena). “Bagaimana? Sekarang kau sudah tidak merasa lelah lagi kan, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh?”(Kira). “Tidak! Ternyata latihan itu memang sangat berguna, ya!”(Sena). “Hehehe...begitulah...”(Kira). Mereka pun menuju kamar apartement Sena. Saat Sena akan membuka pintu, ternyata pintunya sudah tidak dalam keadaan terkunci. “Huh, tidak terkunci? Jangan-jangan...”(Sena). “Ada apa, Sena?”(Kira). “Tidak ada...ayo masuk.”(Sena). Saat Sena membuka pintu, terlihat Yuki berdiri di belakang pintu. Kira terlihat terkejut melihat Yuki. “Sudah kuduga...pasti kakak...”(Sena). Tiba-tiba Yuki menampar Kira. Sena terkejut dengan apa yang dilakukan Yuki. “Kakak! Apa yang kakak lakukan?!”(Sena). “Diam! Cepat masuk!”(Yuki). “Kakak ini kenapa?!”(Sena). Tak lama berselang, Hana keluar dari dapur Sena. “Ha...Hana?”(Sena). Hana hanya menggelengkan kepala, sedangkan Yuki terlihat berurai air mata. “Kau...”(Kira). Air mata tanda kepedihan yang mendalam, jatuh mengalir seolah hal yang sangat buruk kembali terulang.




To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks