Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 26 )


Chapter 26

(Old Friend)

Pertarungan antara Kira dengan si peniru sudah berlangsung cukup lama. Serangan demi serangan mematikan terus dikeluarkan mereka. “Hebat juga...dia mampu menekanku sampai seperti ini...dia benar-benar berbeda dari yang dulu.”(Kira:Dalam Hati). “Kenapa Kira?! Apa kau sudah lelah, huh?!”(Peniru). “Yah...mungkin saja...”(Kira). “Hahahaha!! Baiklah kalau begitu. Akan kubantu kau menghilangkan rasa lelahmu itu selamanya, Kira!”(Peniru). “!!!”(Kira). Kira sudah nampak kewalahan menghadapi si peniru. “Tidak ada cara lain...akan kugunakan saja sekarang!”(Kira). Kira tampak akan mengeluarkan sesuatu, tapi tiba-tiba Kouta dan salah satu teman Kira tadi yaitu Akari Suto telah datang. “Akhirnya datang juga...”(Kira). “Cih! Kau ini bodoh atau bagaimana?! Jangan gunakan benda itu sembarangan, kau harus menggunakannya di saat yang tepat saja!”(Suto). “Ya...aku tau, aku tadi hanya jaga-jaga kalau kalian tidak segera kembali.”(Kira). “Jadi, kau pasti salah satu dari mereka kan? Rekan orang yang berurusan denganku barusan?”(Kouta). “Tepat...perkiraanmu tepat sekali. Jadi bagaimana dengan rekanku tadi? Melihat kau berdiri di depanku sekarang, tentu dia sudah mati...”(Peniru). “Tidak juga, dia kabur waktu aku bermaksud melakukan itu.”(Kouta). “Begitu...apa boleh buat, lagipula kami hanya bertugas memata-matai saja, dan kami hanya boleh turun secara langsung, jika ada kesempatan.”(Peniru).
Tiba-tiba,orang yang sebelumnya berhadapan dengan Kouta dan Tetsu, yaitu Moku, datang ke tempat itu. “Kau masih hidup ternyata?”(Peniru). “Sudah, jangan banyak tanya! Urusan kita cukup sampai di sini dulu. Lain kali, kita pasti akan bertemu lagi, di arena yang sebenarnya.”(Moku). “Haahhh...apa boleh buat, tadinya aku ingin bermain lebih lama lagi dengan mereka. Mereka tetap saja boneka yang bagus walau sudah tua...”(Peniru). “Kalau begitu...Kami juga akan menuggu itu! Dan satu hal lagi, katakan padanya...aku sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan rival lamaku.”(Kira). “Huh...baiklah, kedengarannya menarik. Dia pasti akan senang mendengarnya...”(Moku). Kedua orang itu pun menghilang meninggalkan Kira dan teman-temannya. “Jadi dugaan kita memang benar sejak awal...”(Suto). “Begitulah...dan ngomong-ngomong...”(Kira). Kira pun merangkul kedua teman akrabnya itu. “Sudah lama juga, ya! Bagaimana kabar kalian? Kalian pasti sudah banyak berubah, kan? Terlebih lagi sejak...(Kira). Suto pun memukul wajah Kira. “Ya...ya...sikapmu itu juga sama sekali tidak berubah...”(Suto). “Oh ya, aku masih ingin tau, bagaimana bisa kau bertemu dengan anak itu? Aku pikir dia sulit dicari?”(Kouta). “Tidak juga, aku hanya bertemu secara kebetulan. Ya...mungkin saja itu memang sudah takdir.”(Kira). “Dari dulu kau memang selalu beruntung, tidak heran kau bisa menemukannya.”(Suto).
Sena pun datang ke tempat mereka bersama Tetsu. “Sudah selesai, ya?”(Tetsu). “Ya, kalian ketinggalan acara, tapi memang bisa dibilang yang tadi itu kurang menarik juga.”(Kouta). “Maaf...Aku...”(Sena). “Jadi ini, anak itu? Dia memang terlihat mirip denganmu, Kira.”(Suto). “Ti...tidak kok...Oh ya, kalian ini...”(Sena). “Mereka adalah teman Kira, sama denganku yang sebelumnya aku ceritakan padamu.”(Tetsu). “Begitu ya...Perkenalkan namaku Miyazaki Sena. Aku ke sini untuk berlatih bersama Kira.”(Sena). “Tidak perlu terlalu formal begitu, namaku Akari Suto dan yang ini Amai Kouta.”(Suto). “Mohon bantuannya...”(Sena). “Mereka ini adalah rekan seperjuanganku di masa lalu. Kami sudah berpisah selama beberapa tahun. Ya, aku juga tidak menyangka, kalau mereka akan datang untuk membantu.”(Kira). “Kami memutuskan untuk menemuimu karena ada hal penting Kira, jadi bisa kita bicara empat mata sebentar?”(Suto). “Tentu. Oh ya, kalian tolong awasi latihan Sena sebentar, ya!”(Kira). “Tenang saja, dia aman bersama kami!”(Tetsu). Kira dan Suto pun pergi ke balik semak-semak dan terlihat membicarakan sesuatu. “Kita sudah tak punya waktu. Kau tentu sadar, bahwa kejadian hari ini dan sebelum-sebelumnya, bukan sekedar ancaman sepele dari mereka. Jadi ada baiknya kita juga mengantisipasi segala sesuatunya.”(Suto). “Aku tau...tapi sementara, aku masih ingin fokus dengannya. Dia adalah anak yang berbakat, aku tak mau jika bakat itu hanya akan terpendam saja tanpa bisa digunakan. Lagipula, aku melatihnya juga karena aku yakin, cepat atau lambat, mereka pasti akan mengincar dia dalam berbagai kesempatan, bahkan saat tidak ada kita di sekitarnya...”(Kira). “Lalu, langkah apa yang akan kita ambil sekarang, Leader?”(Suto). Hari penentuan semakin dekat. Sejarah masa lalu mulai terkuak dan akan terulang kembali dalam lingkaran waktu tanpa ujung ini.




To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks