Chapter 23
(Conflict)
Di dalam hutan, Sena masih melanjutkan meditasinya, sedangkan Kira dan teman-teman Sena sedang menuju suatu tempat. “Jadi, kemungkinan yang diincar sejak awal adalah Sena?”(Uno). “Itu memang benar. Karenannya aku harus segera ke sana.”(Kira). “Tapi kenapa kakak tidak mengatakan semua ini pada kami sebelumnya? Kami yang juga teman Sena juga khawatir padanya!”(Hana). “Sebenarnya, hanya Tora yang sudah tau tentang hal ini...”(Kira). Tora teringat saat Sena dan Kira pergi dari apartement Sena seminggu yang lalu. “Kalian berdua...”(Tora). “Tora, aku ingin pergi untuk beberapa lama. Tolong jangan beri tau yang lainnya...Ini hanyalah rahasia kita.”(Sena). “Sebenarnya kalian ini ingin pergi ke mana? Tolong beri tau aku...”(Tora). “Kami berencana untuk pergi ke pegunungan di luar kota, mungkin selama beberapa hari ke depan.”(Tora). “Begitu rupanya...ya, kalau aku sih tidak masalah, tapi bagaimana dengan Hana dan yang lainnya? Lalu jika ada yang terjadi di sini, apa yang harus aku lakukan?”(Tora). “Kau itu adalah sahabatku, aku percaya kau tidak akan kenapa-kenapa. Soal Hana dan yang lainnya, aku percayakan padamu, ya.”(Sena). “Ya...! Serahkan saja semua di sini padaku, kalian bisa pergi tanpa perlu khawatir!”(Tora). “Terima kasih...Tora”(Sena). “Ayo kita pergi...”(Kira). “Ya!”(Sena). “Selamat berjuang, Sena!”(Tora).
Kembali ke waktu sekarang. Kira dan teman-teman Sena masih dalam perjalanan. “Tora?! Hei! Kenapa kau tidak bilang soal ini pada kami?!”(Saki). “Saki benar! Kami semua juga teman Sena, jadi kami juga berhak tau!”(Mayumi). “Ta...ta...tapi...”(Tora). “Kenapa kau tidak jujur waktu itu, Tora?”(Hana). “Katakan saja...Kami juga ingin tau semuanya.”(Uno). “Aku...aku...”(Tora). Kira pun menyuruh mereka semua berhenti. “Ini semua bukan salah Tora atau siapapun. Sena sendiri yang menyuruh Tora untuk merahasiakan tentang hal ini dari kalian semua. Sejak awal, memang hanya Sena dan juga Tora yang tau bahwa ini akan terjadi, karena itu Sena tidak ingin melibatkan teman-temannya lebih dari ini. Dia ke sini juga bukan untuk alasan main-main.”(Kira). Semua lalu terdiam, lalu Uno menanyakan sesuatu pada Kira. “Bukan alasan main-main? Maksud kakak...”(Uno). “Aku melatih Sena di sini untuk bisa menguasai kemampuan sebagai Hyper.”(Kira). Saki lalu menarik baju Kira dengan emosi. “Hyper? Kakak tau, selama ini Sena hampir terlibat dalam bahaya karena hal itu! Bahkan kakaknya sendiri sangat membenci sesuatu tentang Hyper! Kenapa kakak bisa-bisanya mengajari Sena secara diam-diam seperti ini?!”(Saki). “Tenanglah Saki!”(Mayumi). “Jangan marah dulu! Kita harus dengarkan penjelasan Kak Kira!”(Hana). “Tolong beri tau kami, alasan kenapa kakak ingin mengajari Sena hal itu?”(Uno). “Ceritanya panjang, kalian tunggu saja di sini. Aku akan ke tempat Sena sekarang.”(Kira). “Tidak bisa! Kami juga harus ikut! Sudah seharusnya kami tau soal kondisi Sena sekarang!”(Saki). “Tenang Saki, Sena pasti baik-baik saja.”(Hana). “Bagaimana kau bisa tenang seperti itu, saat salah satu dari kita mungkin dalam bahaya karena orang asing yang ceroboh!”(Saki). Kira hanya bisa terdiam. “Sudah cukup! Kalian semua!”(Tora). Semuanya lalu terdiam tanpa kata. “Kak Kira...tolong selamatkan Sena, bagaimana pun juga dia adalah salah satu dari kami. Kami tidak akan tau apa yang bisa kami lakukan tanpanya.”(Tora). “Kau...”(Saki). “Tora?”(Hana). “Itu sudah jadi tanggung jawabku. Lagipula, salah satu temanku juga sudah ada di sana, jadi tidak perlu khawatir. Biar aku dan temanku yang akan mengatasinya, sementara itu kalian tunggulah di sini.”(Kira). “Hei!”(Saki). “Ya...tolong ya, kak.”(Uno). “Kau juga...”(Saki). Kira pun mengangguk lirih lalu pergi. “Kenapa bisa kalian...”(Saki). “Memang kita ke sana bisa merubah sesuatu! Kita hanya bisa percayakan semuanya pada Kak Kira dan temannya yang sudah paham dengan situasi ini. Lagipula dia juga sudah berjanji pada kita. Kalau kita bertindak seenaknya, kita hanya akan memperburuk keadaan.”(Uno). “Aku setuju dengan Uno. Lebih baik kita menunggu di sini, sampai semuanya selesai.”(Hana). “Hana...Kenapa kau juga bisa percaya seperti itu?”(Saki). “Jujur, aku juga cemas dengan Sena, Tapi karena dia itu Sena, maka aku percaya padanya. Sena itu bukan orang yang lemah.”(Hana). Mereka pun hanya bisa menunggu. Sementara itu, keadaan saat ini semakin menyudutkan Kira. Akankah Kira bisa sampai tepat waktu? Lalu di manakah teman Kira itu berada?
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar