Chapter 11
(Beginning)
Fajar sudah menjelang. Sena bangun lebih pagi dari yang lainnya. Dia pergi sendirian ke tempat di mana dia bertemu dengan Kira kemarin tanpa diketaui teman-temannya. “Sebaiknya aku harus cepat.”(Sena:Dalam Hati). Sena terus berjalan menyusuri pinggiran danau. “Tak kusangka kau akan datang se-pagi ini, Sena.”(Kira). Terlihat Kira sedang duduk di cabang sebuah pohon yang agak besar. Sena akhirnya berhenti. “...”(Sena). Kira pun turun dan mengahampiri Sena. “Jadi, kita mulai dari mana?”(Kira). “Bagaimana, kalau dari siapa dirimu yang sesungguhnya?”(Sena). “...”(Kira). “Kau pasti tau, waktu itu, saat aku diserang. Tidak ada seorang pun yang menyadarinya, bahkan temanku yang saat itu hanya berjarak kurang dari satu meter dariku.”(Sena). “Iya...itu benar.”(Kira). “Dan yang menjadi pertanyaanku. Kenapa cuma kau yang bisa menyadarinya? Bukan cuma itu, dari ekspresi orang itu saat bertemu denganmu, dia terlihat seperti sangat berhati-hati dan berusaha untuk tidak melakukan kontak langsung denganku atau denganmu.”(Sena). “Jadi itu yang ingin kau tau?”(Kira).
Sena memandang Kira dengan serius, lalu Kira terlihat mengeluarkan pedang miliknya. “Bukankah itu pedang yang kau gunakan waktu itu?”(Sena). “Memang benar...”(Kira). Kira dengan cepat menarik pedangnya, dan tebasan dari pedang itu sampai membelah pohon besar di belakang Sena, tanpa dia bergeser dari tempatnya berdiri. Sena yang terkejut hanya bisa menoleh ke arah pohon itu. “!!!”(Sena). “Saat aku menggunakannya. Inilah yang bisa aku lakukan...”(Kira). Sena pun teringat kembali saat dia berhadapan dengan Ryuto dulu. “Kau itu...apa mungkin...kau...”(Sena). “Benar...aku adalah seorang Hyper.”(Kira). “Begitu rupanya, tapi jujur aku masih belum mengerti maksud dari semua ini!”(Sena). “Penjelasannya cukup panjang, tapi yang pasti kau saat ini sedang diincar oleh sebuah kelompok yang beranggotakan para Hyper dengan kemampuan tinggi.”(Kira). “Diincar? Tapi kenapa?! Apa hubungannya denganku, sampai-sampai mereka berniat untuk membunuhku?!”(Sena). “Aku juga belum mengerti. Sebenarnya, aku sudah mengawasimu sejak kau dan teman-temanmu datang ke tempat ini, dan ternyata firasat buruk yang aku rasakan sebelumnya memang benar. Tapi, beruntung aku masih bisa menyelamatkanmu.”(Kira). “Lalu sebenarnya, apa tujuanmu? Kenapa kau menyelamatkanku dan memberitauku semua ini?”(Sena). “Kau itu memang aneh. Bukannya kau sendiri yang berteriak waktu itu? Lagipula semua ini berkaitan denganmu, jadi sudah wajar jika kau harus tau semuanya.”(Kira).
Sena teringat kembali saat penyerangan kemarin. “Itu memang benar. Tapi masih ada hal yang mengganggu dalam pikiranku. Sebenarnya apa yang telah aku lakukan hingga semua berubah menjadi begini?”(Sena). “Kau tidak melakukan kesalahan apapun, percayalah.”(Kira). “Tapi...”(Sena). “Sebenarnya, ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan denganmu, Sena.”(Kira). “Eh...apa itu?”(Sena). Kira terdiam sejenak. “Aku akan melatihmu agar menjadi seorang Hyper.”(Kira). Sena sontak tercengang. “Apa?! Tunggu dulu, apa-apa ini sebenarnya?! Kau ingin mempermainkanku?!”(Sena). Tidak, tapi kau tentu tau. Orang-orang yang mengincarmu bukan manusia biasa. Mereka mungkin bisa membunuhmu kapan saja, bahkan saat aku tidak ada sekalipun. Dan bukan hanya itu saja, teman-temanmu mungkin juga bisa terlibat dalam hal yang berbahaya ini. Apa kau mau kehilangan orang-orang yang kau sayangi, Sena?”(Kira). Sena terlihat bingung. “Tentu aku tidak mau. Tapi menjadikanku seorang Hyper. Apa benar aku bisa?”(Sena). “Yah, untuk menjadi seorang Hyper memang ada rintangan, namun melihat tekadmu itu, membuatku jadi yakin untuk mengajarimu.”(Kira). “Tekad? Maksudmu?”(Sena). “Bukankah kau punya keinginan untuk menjadi seorang Hyper, Sena?”(Kira). “Tapi, bagaimana kau bisa tau? Kita kan belum...”(Sena). Dari kejauhan, terdengar suara teman-teman Sena memanggilnya. “...”(Sena). “Kalau aku tidak salah, hari ini kau sudah harus pulangkan?”(Kira). “Ya, tapi bagaimana soal latihan itu?”(Sena). “Tenang saja, aku akan menaiki bus yang sama denganmu, jadi kita bisa pulang ke tempatmu.”(Kira). “Tapi, kau kan tinggal di sini? Apa tidak apa-apa?”(Sena). “Sebenarnya, aku hanyalah seorang pengembara. Jadi, tak masalah bagiku untuk tinggal di mana saja.”(Kira). “Begitu ya...”(Sena). “Cepatlah ke sana. Aku akan menunggu kalian di terminal bus.”(Kira). “Umm...sampai jumpa lagi!”(Sena). “Ya...”(Kira). Sena pun kembali ke penginapan dan mulai bersiap-siap untuk pulang, sementara Kira perlahan berjalan ke arah danau. “Kota itu...Rasanya seperti pulang ke rumah...”(Kira:Dalam Hati). Gerbang baru perjalanan Sena untuk menjadi seorang Hypermulai terbuka.
To Be Continue...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar