Pages

Manga

Minggu, 06 Juli 2014

Wrong Life ( Arc 1 Chapter 13 )


Chapter 13

(Adaptation)

Malam harinya, Sena pergi ke taman kota untuk menemui Kira. “Maaf sudah membuatmu menunggu cukup lama.”(Sena). Kira terlihat sedang duduk di sebuah bangku panjang. “Tak masalah, lagipula aku juga baru sampai.”(Kira). “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”(Sena). “Sebagai langkah pertama...”(Kira). Kira mulai berdiri. “Aku akan mulai dari penjelasan dasar, jadi kau bisa memahaminya secara keseluruhan.”(Kira). “Baik!”(Sena). Kira pun memulai penjelasannya. “Sena, apa kau pernah tau apa yang membuat seorang Hyper berbeda dengan manusia?”(Kira). Sena terlihat berpikir. “Mmmm...Itu, mungkin kekuatan, kemampuan, atau hal lain?”(Sena). “Ya, memang hampir keseluruhan yang kau sebutkan tadi benar. Tapi bukan hanya itu saja. Hyper dapat melampaui manusia biasa, karena dia mampu mengendalikan segala hal di dalam dan di luar dirinya.”(Kira). “Lalu, hal apa itu? Yang ada di dalam dan di luar diri mereka? Apa berbeda dari manusia biasa?”(Sena). “Tidak, semuanya sama. Hanya saja, mereka mampu menguasai itu lebih dari manusia biasa. Karena pada dasarnya, Hyper adalah manusia juga.”(Kira). “Kalau begitu, setiap manusia yang bisa mengendalikan sesuatu itu, pasti bisa jadi seorang Hyper?”(Sena). “Tidak begitu juga. Ada hal yang istimewa pada setiap manusia yang kesemuanya pasti berbeda satu sama lain. Bisa dibilang, tahapan untuk bisa jadi seorang Hyper itu cukup berat, tergantung orangnya.”(Kira).  “Itu artinya...”(Sena). “Ya, aku berani melatihmu, karena aku bisa melihat potensi yang besar dalam dirimu. Masalahnya sekarang, tinggal bagaimana agar kau mampu menggunakan potensi itu hingga kau bisa menjadi seorang Hyper.”(Kira). “Potensi? Memang apa yang aku punya?”(Sena).
Kira menunjukkan Sena sesuatu. “Apa kau bisa rasakan?”(Kira). Sena terlihat bingung. “Eh...Memang apa yang terjadi?”(Sena). “Coba kau tenangkan dirimu dan fokuslah.”(Kira). Tiba-tiba Sena merasakan ada sesuatu yang mengalir dari diri Kira. “I...ini...Rasanya seperti ada yang mengalir melewati tubuhku. Memang apa sebenarnya yang aku rasakan sekarang ini?”(Sena). “Itulah kekuatanku. Kekuatan sebagai seorang Hyper.”(Kira). “Wah...Rasanya memang lain, tapi aku rasa aku pernah merasakan ini sebelumnya.”(Sena). Sena pun teringat kejadian dengan Ryuto dulu. “Jadi kau pernah merasakannya. Itu artinya kau pernah berhadapan dengan seorang Hyper sebelumnya.”(Kira). “Ya, dia adalah teman satu kelasku, namanya Ryuto. Tapi apa yang aku rasakan darinya tidak sama dengan apa yang kurasakan darimu sekarang ini.”(Sena). “Begitu...Tentu saja, aku tidak menggunakan kekuatanku ini untuk menyerang. Bisa dibilang aku sekarang menggunakannya hanya sebagai pengenalan dan agar kau mampu beradaptasi dengan suasananya.”(Kira). “Mmmm....”(Sena). “Ngomong-ngomong, apa yang kau rasakan waktu itu?”(Kira). “Itu...Kalau aku tak salah ingat, rasanya seperti ada yang menekanku dengan kuat. Mungkin lebih tepatnya seperti tersapu angin tornado yang amat dekat dan kau seakan-akan ikut ke dalamnya.”(Sena). “Hmmm...apa yang kau rasakan seperti ini?”(Kira).
Tiba-tiba, kekuatan Kira berubah drastis, menjadi sangat pekat dan menusuk. “Uwwwaaaahhh!! I...ini...”(Sena). Sena terlihat seakan-akan terdorong oleh sesuatu. “Inilah yang terjadi saat aku mengeluarkannya untuk menyerang.”(Kira). Tekanan itu pun lalu menghilang dan Sena mulai stabil. Sena tertunduk dengan terengah-engah, seakan kehabisan nafas. “Aku benar-benar kaget. Kau tak bilang sebelumnya kalau kau juga bisa melakukannya.”(Sena). “Semua Hyper berkemampuan tinggi bisa melakukannya. Mereka bisa merubah tekanan kekuatan mereka sekehendak mereka. Aku lakukan itu, juga agar kau bisa beradaptasi.”(Kira). “Luar biasa! Jadi aku nantinya juga akan bisa melakukannya?”(Sena). “Tentu, tapi latihan yang akan kau jalani tak akan mudah. Karenanya, kau harus banyak berlatih dan jangan mudah menyerah. Jujur saja, banyak orang yang tidak sanggup melanjutkan, bahkan baru pada tahap awal, merek sudah mundur.”(Kira). “Tenang saja! Kau tak perlu khawatir soal itu. Aku tak akan mundur apapun yang terjadi.”(Sena). Kira terlihat tersenyum. “Itulah yang aku suka darimu. Semangatmu yang tinggi itu, pasti akan membantumu melewati rintangan-rintangan dalam latihan nanti.”(Kira). “Tentu saja!”(Sena). “Oh ya, kau besok masuk sekolah kan?”(Kira). “Belum, ini kan masih liburan musim panas, jadi aku punya banyak waktu luang.”(Sena). “Baguslah, kalau begitu kita bisa mulai latihannya besok pagi. Tempatnya akan aku beritau besok.”(Kira). “Baik!”(Sena). “Ya sudah, ini sudah malam, cepatlah kembali, besok kau harus bangun pagi-pagi sekali, mengerti!”(Kira). “Siap! Kau bisa percayakan hal itu padaku.”(Sena). “Kalau begitu, sampai jumpa besok...”(Kira). Kira pun pergi dan Sena juga kembali ke apartementnya. Sena berjalan dengan penuh semangat. “Yang penting, besok aku harus bisa bangun pagi! Aku tidak boleh kalah dari Ryuto. Mulai besok aku harus berlatih dengan keras! Harus!”(Sena:Dalam Hati). Semangat yang membara telah mencairkan dinginnya kabut malam. Perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.



To Be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About

Blog ini sengaja kami buat untuk mempermudah para pembaca untuk menikmati manga hasil karya dari saya,dan saya tekankan lagi semua yang ada dalam tulisan blog ini adalah murni kreatifitas saya. Thanks